Dalam upaya menangani kebakaran hutan dan lahan yang kerap terjadi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian untuk menguji efektivitas tepung berbahan singkong sebagai material pemadam kebakaran. Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa secara teoritis, penggunaan tepung singkong untuk memadamkan api memiliki potensi yang menjanjikan, namun perlu dilakukan pengujian lebih lanjut sebelum diterapkan secara meluas.

Langkah ini diambil setelah inovasi pemakaian bahan berbasis tepung tersebut dikemukakan oleh Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam rangka memitigasi kebakaran hutan. Kajian yang dilakukan oleh BRIN bertujuan untuk menilai berbagai aspek teknis yang terlibat dalam pemanfaatan tepung singkong sebagai metode pemadam kebakaran yang efektif.

Arif menjelaskan bahwa kajian awal telah dilakukan oleh para ahli kimia molekuler di BRIN. Mereka sedang menjajaki potensi penggunaan tepung tersebut bukan hanya dalam situasi kecil, tetapi juga dalam skala lebih besar yang menyangkut kebakaran hutan yang meluas.

Perluasan Pengujian Tepung Singkong untuk Pemadaman Kebakaran

BRIN bersama dengan Polri kini mempersiapkan uji coba yang lebih terencana untuk mengukur efektivitas tepung singkong di area yang luas. Pengujian ini melibatkan kajian komposisi dan metode penyemprotan yang tepat untuk memastikan bahwa material ini dapat berfungsi dengan baik dalam situasi nyata.

Arif menekankan bahwa pemakaian tepung yang lebih besar tidak dapat dilakukan secara manual. Tim sedang mengembangkan peralatan inovatif yang diperlukan untuk aplikasi di lapangan, sehingga proses pemadaman kebakaran dapat dilakukan secara efisien dan efektif.

Dari segi teknis, kinerja tepung singkong sebagai material pemadam kebakaran masih memerlukan evaluasi lebih mendalam. Pengujian lain juga akan fokus pada pencampuran dan teknik penyemprotan yang optimal untuk meningkatkan efektivitas material ini dalam memadamkan api.

Mandat Untuk Mencari Opsi Teknologi Terbaik

Menurut Arif, saat ini tidak ada perintah untuk segera memproduksi tepung tersebut secara masal. Sebaliknya, BRIN tengah berupaya untuk memenuhi mandat Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar lembaga ini mencari berbagai solusi teknologi dalam penanganan bencana kebakaran hutan.

Tidak hanya tepung singkong, BRIN juga sedang mengembangkan teknologi modifikasi cuaca sebagai metode alternatif dalam mengatasi kebakaran hutan. Teknologi ini menggunakan natrium klorida berukuran mikro untuk merangsang hujan buatan yang dapat membantu menanggulangi kebakaran.

BRIN berkoordinasi dengan TNI Angkatan Udara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam kerjasama ini, BRIN bertanggung jawab untuk melakukan riset dan menyediakan material, sementara pelaksanaannya dilakukan oleh BMKG.

Uji Coba Sebagai Langkah Awal Inovasi

Walaupun secara teoritis tepung singkong terlihat menjanjikan sebagai bahan pemadam kebakaran, efektivitasnya dalam praktik pada kebakaran hutan yang berskala besar masih dalam tahap pengujian. Arif menyatakan bahwa tantangan utama adalah menentukan seberapa efektif tepung ini ketika diterapkan dalam situasi darurat.

Tim dari Polri dan BRIN kini tengah melakukan berbagai kajian untuk memastikan bahwa semua langkah yang diambil sudah berdasarkan pengujian yang solid. Uji coba ini menjadi krusial untukmengvalidasi hipotesis yang ada dan mendapatkan hasil yang sesuai.

Dalam langkah awal, beberapa daerah, seperti Kalimantan Selatan, telah melakukan pengujian dengan menerapkan campuran cairan pati singkong yang dikombinasikan dengan amonium polifosfat dan air. Campuran ini diharapkan dapat menghambat penyebaran api di lahan gambut yang rawan terbakar.

Pentingnya Penerapan Teknologi yang Efektif dalam Penanganan Bencana

Penting untuk tetap melibatkan penelitian yang mendalam guna memastikan bahwa teknologi yang digunakan benar-benar efektif dalam situasi darurat. Dalam rapat yang digelar di Palembang, Presiden Prabowo menekankan perlunya pengujian lebih luas untuk menilai keefektifan teknologi ini.

Keberhasilan pemanfaatan tepung singkong dalam penanganan kebakaran hutan dapat membawa dampak positif yang signifikan. Tidak hanya soal pemadaman api, tetapi juga dapat membantu dalam menjaga kelestarian alam dan mengurangi risiko bencana di masa depan.

Hasil dari ujicoba ini diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut. Melalui teknologi yang tepat, diharapkan penanganan bencana seperti kebakaran hutan dapat dilakukan jauh lebih efektif di masa mendatang, melibatkan inovasi-inovasi lokal yang relevan.

Iklan