Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjelaskan secara rinci alasan mengapa bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra tidak ditetapkan sebagai bencana nasional. Dalam pandangannya, meskipun wilayah tersebut mengalami dampak yang cukup signifikan, penetapan status bencana nasional masih dianggap tidak perlu saat ini.
Ketika meninjau pembangunan rumah hunian sementara di Aceh Tamiang, Prabowo mencatat bahwa situasi di tiga provinsi tersebut memang patut diperhatikan, tetapi harus dilihat dalam konteks keseluruhan 38 provinsi yang ada di Indonesia.
Prabowo menyatakan, “Jadi saudara-saudara masih ada yang mempersoalkan kenapa tidak bencana nasional. Masalahnya adalah kita punya 38 provinsi, dan situasi ini hanya berdampak di tiga provinsi, sementara ada 35 provinsi lain yang juga perlu diperhatikan.”
Pentingnya Menjaga Stabilitas dan Keseimbangan Antar Provinsi
Dalam penjelasannya, Prabowo menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan keseimbangan antarprovinsi dalam menghadapi bencana. Ia berpendapat bahwa jika pemerintah menyatakan bencana nasional hanya untuk tiga provinsi, itu dapat mengabaikan masalah yang terjadi di daerah lain yang juga membutuhkan perhatian.
Prabowo menambahkan, “Kalau kita merasa mampu menangani situasi ini sebagai bangsa, maka tidak perlu untuk menyatakan bencana nasional.” Dengan kata lain, kemampuan pemerintah dalam menangani bencana di tingkat lokal menjadi indikator penting dalam pengambilan keputusan.
Ia juga menyoroti berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mengatasi bencana tersebut. Dalam kunjungan ke daerah yang terkena dampak, Prabowo melihat langsung kerjasama antara kementerian untuk membantu memberikan solusi yang tepat dan cepat.
Keseriusan Pemerintah dalam Menangani Dampak Bencana
Meskipun status bencana nasional tidak ditetapkan, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tetap serius menangani kejadian yang ada. Dia menyebutkan bahwa sejumlah menteri telah berkunjung ke daerah yang terkena dampak untuk memastikan bantuan bisa tersalurkan dengan baik.
Prabowo menyatakan, “Dari seluruh kabinet, kita memiliki banyak menteri yang berada di sini. Beberapa di antaranya sedang berada di Aceh dan memberi perhatian penuh terhadap situasi yang ada.” Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberikan bantuan kepada daerah yang membutuhkan.
Lebih lanjut, Prabowo memastikan bahwa anggaran yang cukup besar telah disiapkan untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh bencana ini. Dia menekankan bahwa semua upaya akan dilakukan untuk membantu masyarakat yang terdampak.
Keterbukaan Pemerintah dalam Menerima Bantuan
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo juga menyatakan keterbukaan pemerintah dalam menerima bantuan dari pihak luar. Namun, ia menekankan bahwa bantuan yang diberikan harus mematuhi mekanisme yang telah ditetapkan.
“Kita kerahkan semua upaya kita. Jika ada yang ingin memberi bantuan, kita tidak akan menolak,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah siap menerima bantuan untuk kepentingan kemanusiaan tanpa mengesampingkan aturan yang ada.
Prabowo menyampaikan dengan tegas bahwa tidak ada niatan dari pemerintah untuk menunjukkan ketidakmampuan. Sebaliknya, mereka siap bekerja sama dengan pihak lain yang ingin membantu, baik itu bantuan untuk Aceh, Sumbar, maupun Sumut.
Situasi yang terjadi di tiga provinsi tersebut memang cukup kompleks. Dengan jumlah provinsi yang lebih banyak, penting bagi pemerintah untuk melakukan penilaian yang objektif dalam menentukan langkah selanjutnya. Mengelola bencana tak hanya berbicara tentang angka, tetapi juga tentang dampak sosial yang dirasakan masyarakat.
Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa kebijakan yang diambil oleh pemerintah bertujuan untuk menjaga keutuhan dan kestabilan negara. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas lokal untuk merespons dengan cepat dan tepat di tengah berbagai keterbatasan. Dengan begitu, meskipun bencana itu terasa berat, sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat tercipta untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada.



