Baru-baru ini, sebuah kelompok yang terdiri dari pria-pria yang melakukan zikir di pelataran Candi Prambanan, Jawa Tengah, mencuri perhatian publik setelah aktivitas mereka viral di media sosial. Pimpinan kelompok tersebut, Ahmad Rifai, menyampaikan klarifikasi tentang maksud dari aktivitas rohaniah yang mereka lakukan dan menanggapi berbagai kritik yang diterima.

Rifai, yang berasal dari Desa Karangrandu di Jepara, meyakini bahwa zikir yang dilakukannya di Candi Prambanan merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Dengan latar belakang yang sederhana, Rifai mengaku bahwa ia memiliki guru di Tangerang yang banyak mempengaruhinya dalam praktik spiritual ini.

Dalam penjelasannya, Rifai menyampaikan keyakinan bahwa ia telah mewarisi ilmu dari gurunya dan memiliki tanggung jawab untuk meneruskan tradisi ini. Perjalanan rohaniah ini, menurutnya, bukan hanya sekedar aktivitas ritual, tetapi juga kewajiban spiritual yang harus dilaksanakan.

Makna dan Tujuan Zikir di Candi Prambanan

Rifai menjelaskan bahwa zikir yang dilakukan di Candi Prambanan pada tanggal 25 Desember bukan sekadar kegiatan biasa, tetapi memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan leluhur. Dia mengatakan, tindakan tersebut merupakan bagian dari amanah yang diteruskan dari generasi ke generasi.

Dia menyatakan bahwa mereka melakukan perjalanan dari Pantai Parangtritis menuju Candi Prambanan dengan tujuan untuk melakukan zikir dan mendoakan para leluhur yang dianggap masih berhubungan dengan tempat bersejarah tersebut. Menurutnya, lokasi seperti Candi Prambanan bukan hanya sekadar objek wisata, tetapi juga tempat yang sarat dengan nilai spiritual.

Saat berada di Candi Prambanan, Rifai dan rombongannya mengklaim memiliki misi untuk melepaskan kutukan dari Aji Bondowoso yang dianggap terikat dengan legenda Nyai Roro Jonggrang. Ini adalah bagian dari keyakinan spiritual yang dijunjungnya, dan mereka merasa terdorong untuk melakukan zikir di sana sebagai bentuk penghormatan.

Reaksi Publik dan Klarifikasi dari Pihak Terkait

Setelah kegiatan zikir tersebut viral di media sosial, banyak pihak yang memberikan reaksi beragam, mulai dari dukungan hingga kritik tajam. Rifai mengaku tidak menyangka bahwa aktivitasnya itu akan menjadi isu hangat di masyarakat. Ia berpendapat bahwa jika ia mengetahui ada yang merekam, ia akan melarang kegiatan tersebut.

Rifai juga menjelaskan bahwa tujuan kegiatan spiritualnya bukan untuk menyinggung atau merendahkan agama lain. Ia berkomitmen untuk menghormati setiap keyakinan dan mengajak orang untuk saling menghargai di tengah perbedaan agama yang ada.

Wakil dari pihak pengelola Candi Prambanan, yang juga mengaku terkejut dengan insiden tersebut, menyatakan telah mengambil langkah untuk mengklarifikasi situasi dan menindaklanjuti kasus yang viral ini. Pihak pengelola meminta maaf kepada publik atas insiden yang menyebabkan ketidaknyamanan.

Pengawasan dan Penanganan Aktivitas Zikir di Situs Budaya

Pengelola Candi Prambanan mengonfirmasi bahwa pihaknya akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas yang dilakukan di kawasan cagar budaya tersebut. Mereka berkomitmen untuk melindungi nilai-nilai luhur yang ada di Candi Prambanan, yang merupakan situs bersejarah yang memiliki peranan penting dalam budaya dan sejarah Indonesia.

Destantiana Nurina, perwakilan pengelola, menegaskan bahwa mereka akan berupaya untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang. Ini termasuk pemberian pengarahan kepada pengunjung tentang batasan-batasan dalam beraktivitas di dalam area cagar budaya.

Langkah-langkah proaktif tersebut diambil untuk memastikan bahwa kegiatan keagamaan dan spiritual yang dilakukan di tempat-tempat bersejarah tetap menghormati nilai dan tradisi yang berlaku. Ini adalah upaya untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua pihak yang berkunjung ke Candi Prambanan.

Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan

Peristiwa zikir di Candi Prambanan menunjukkan bagaimana keragaman spiritualitas di Indonesia dapat memicu berbagai reaksi. Di satu sisi, ada upaya untuk menghormati dan melestarikan tradisi, tetapi di sisi lain, ada kebutuhan untuk memahami dan menghargai batasan yang ada di situs budaya.

Diharapkan, ke depan, setiap kegiatan yang berkaitan dengan spiritualitas di tempat-tempat bersejarah dapat dilakukan dengan lebih bijaksana. Diperlukan kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni di tengah keragaman keyakinan yang ada di masyarakat.

Kesadaran akan pentingnya penghormatan di tempat-tempat suci adalah hal yang krusial, untuk menciptakan keseimbangan antara penghayatan spiritual dan perlindungan terhadap warisan budaya yang tidak ternilai ini. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Iklan