Dalam beberapa hari terakhir, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengalami bencana banjir yang cukup parah. Hujan deras yang terjadi selama satu hari membuat sejumlah daerah terendam, mengakibatkan dampak signifikan bagi kehidupan warga setempat.
Berdasarkan laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ada lebih dari 4.600 kepala keluarga (KK) yang terdampak dari fenomena alam ini. Jumlah tersebut tersebar di 16 kecamatan dan 40 desa, menunjukkan betapa meluasnya dampak banjir yang terjadi.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Dodi Supriadi, menjelaskan bahwa penyebab utama banjir adalah meluapnya beberapa sungai yang ada di wilayah tersebut. Hujan yang turun dengan intensitas tinggi menyebabkan Kali Gabus, Sungai Cibeet, dan beberapa sungai lainnya melimpah hingga merendam kawasan permukiman warga.
Penyebab dan Dampak Banjir di Kabupaten Bekasi
Penyebab utama dari banjir ini dapat ditelusuri ke intensitas hujan yang tinggi dan berlangsung cukup lama. Dengan ketinggian air yang bervariasi antara 20 hingga 200 sentimeter, dampak bencana ini sangat merugikan masyarakat.
BPBD mencatat bahwa kondisi ini diperburuk oleh sistem drainase yang buruk di daerah tersebut. Ketidakmampuan infrastruktur untuk menampung air hujan yang turun deras menjadi faktor krusial dalam terjadinya banjir ini.
Lokasi yang paling parah terdampak termasuk Kecamatan Babelan, di mana lebih dari seribu KK terpaksa mengungsi. Dan juga di Kecamatan Cabangbungin, yang mencatat jumlah terdampak terbesar dengan lebih dari 1.200 KK yang harus menghadapi ketinggian air mencapai 50 sentimeter.
Evakuasi dan Upaya Penanganan Banjir
Seiring dengan situasi yang semakin memburuk, tim dari BPBD, PMI, dan Brimob bergerak cepat melakukan evakuasi warga. Dengan menggunakan perahu karet, mereka menjangkau daerah-daerah yang terisolasi oleh banjir.
Dodi Supriadi menekankan pentingnya evakuasi untuk wilayah dengan ketinggian air di atas satu meter. Upaya ini dilakukan untuk melindungi keselamatan masyarakat yang terjebak dalam situasi berbahaya.
Kawasan perumahan yang padat penduduk, seperti di Tambun Utara dan Selatan, juga mengalami dampak serius. Tingginya air yang mencapai 110 sentimeter membuat aktivitas warga lumpuh total, sementara jalan akses terputus.
Dampak Terhadap Sektor Pertanian dan Kehidupan Sosial
Banjir tidak hanya mengganggu kehidupan sehari-hari, tetapi juga berdampak signifikan pada sektor pertanian. Di Kecamatan Pasir Tanjung, luapan sungai merendam lahan pertanian, mengancam hasil panen dan mata pencaharian petani.
Di Jati Baru, beberapa keluarga terpaksa mengungsi akibat air yang merendam sampai 80 sentimeter. Banyak warga yang memilih untuk mencari tempat aman, meskipun tidak semua memiliki opsi pengungsian yang layak.
BPBD melaporkan bahwa bantuan logistik mulai didistribusikan ke warga yang terdampak, namun tantangan dalam menyalurkannya tetap ada. Koordinasi dengan berbagai pihak menjadi kunci untuk memastikan bantuan sampai ke masarakat dengan cepat.
Kepala Pelaksana BPBD, Muchlis, menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya untuk memantau situasi terkini. Mereka bekerja sama dengan TNI-Polri, relawan, dan pemerintah daerah dalam menghadapi keadaan darurat ini.
Bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan banjir, penting untuk tetap waspada. Pihak BPBD mengimbau masyarakat untuk melaporkan peningkatan debit air dan tetap mengikuti instruksi dari petugas di lapangan.
Cuaca yang masih dinamis membuat ancaman banjir berpotensi terjadi kembali. Oleh karena itu, perhatian dan kesiap-siagaan menjadi hal yang krusial bagi masyarakat serta pemerintah dalam mengantisipasi dampak lebih lanjut.



