Hari Rabu, 21 Januari, menjadi tragis bagi kota Tebingtinggi di Provinsi Sumatra Utara, ketika sebuah kecelakaan maut terjadi. Sembilan orang kehilangan nyawa akibat kecelakaan antara Kereta Api Sri Billah Utama dan sebuah minibus di perlintasan tanpa palang pintu.
Korban terdiri dari pengemudi dan penumpang minibus Toyota Avanza BK 1657 AB, yang semuanya telah dievakuasi ke RS Bhayangkara di Tebingtinggi. Kecelakaan ini menyoroti perlunya perhatian besar dalam keselamatan transportasi di wilayah tersebut.
Kapolres Tebingtinggi, AKBP Rina Frillya, menjelaskan bahwa semua korban berasal dari satu kendaraan yang nahas tersebut. Di antara mereka, Abdul Kadir Al Jaelani, sang pengemudi, sempat mendapatkan perawatan, namun hayatnya tak tertolong.
Detail Mengenai Korban Kecelakaan yang Menyebabkan Duka Mendalam
Dari sembilan korban, delapan orang tewas di lokasi kejadian karena mengalami luka berat. Mereka adalah penumpang minibus Toyota Avanza dan merupakan warga Kecamatan Deli Tua, dan satu dari Medan Marelan.
Korban yang meninggal di tempat antara lain Rizal (59 tahun), Daratul Lailla (50), dan seorang anak berusia 4 tahun bernama Muhammad Hafiz. Kehilangan tersebut tidak hanya melukai keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga mengguncang komunitas setempat.
Setiap nama yang terluka dan meninggal adalah bagian dari cerita kehidupan yang lebih besar. Keluarga yang terpisah merasa duka yang mendalam dan kebangkitan kesadaran atas pentingnya keselamatan di perlintasan kereta api.
Rincian Kecelakaan dan Penyelidikan yang Sedang Berlangsung
Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 18.30 WIB saat minibus datang dari Jalan Abdul Hamid dan mengabaikan peringatan untuk tidak melintas. Kereta Api Sri Billah Utama, yang bergerak dari Rantau Prapat, tidak dapat menghindari tabrakan dan menghantam kendaraan dengan keras.
Berita dari saksi mengungkapkan bahwa ada upaya untuk memperingatkan pengemudi minibus, namun sayangnya peringatan tersebut tidak didengar. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kesadaran terhadap keselamatan di perlintasan kereta api tanpa palang pintu.
Setelah terjadi kecelakaan, mobil tersebut terseret sejauh 300 meter akibat benturan tersebut. Upaya penyelamatan di lokasi kejadian berlangsung cepat dan terorganisir, tetapi nasib malang telah menanti para korban.
Penyelidikan dan Langkah-Langkah yang Ditempuh Pihak Berwenang
Pihak kepolisian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah kecelakaan terjadi. Setiap barang bukti diamankan untuk memastikan proses penyelidikan berjalan tanpa kendala.
Sejumlah saksi mata dimintai keterangan untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang kejadian. Proses ini sangat penting guna mengetahui penyebab pasti dari kecelakaan dan menghindari kejadian serupa di masa depan.
Dalam penyelidikan awal, terungkap bahwa rombongan minibus sedang dalam perjalanan untuk menghadiri sebuah acara keluarga. Keluarga yang mengalami tragedi ini kini harus menjelajah jalan berliku-liku untuk mencari keadilan atas hilangnya orang-orang tercinta mereka.



