Ketua umum Majelis Ulama Islam (MUI), Anwar Iskandar, mengajak masyarakat Indonesia untuk menghormati perbedaan menjelang penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah. Dalam konferensi pers setelah sidang isbat di Hotel Borobudur, Jakarta, ia menekankan pentingnya kesatuan di tengah keragaman yang ada.

Anwar menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai latar belakang budaya dan agama, yang merupakan sebuah kenyataan. Perbedaan dalam cara beribadah di kalangan berbagai organisasi Islam adalah hal yang wajar dan sepatutnya dimaklumi.

Ia juga mengungkapkan bahwa meski pasti ada variasi dalam pelaksanaan ibadah puasa, esensi dari keutuhan umat Islam harus tetap dijaga. Saling menghormati dan memahami perbedaan adalah kunci untuk membangun harmoni di tengah masyarakat yang beragam.

Permasalahan Perbedaan dalam Penetapan Awal Puasa

Anwar menyatakan bahwa masyarakat harus menerima kenyataan bahwa tanggal awal puasa dapat berbeda antara satu organisasi dengan yang lainnya. Hal ini, menurutnya, merupakan hasil dari ijtihad yang tentu memiliki ruang untuk perbedaan. Keberagaman ini justru harus dipandang sebagai bagian dari proses beragama yang lebih luas.

“Kesatuan umat Islam adalah hal yang terpenting,” tuturnya. Ia mengingatkan bahwa keragaman dalam praktik ibadah bukanlah suatu halangan untuk tetap bersatu dalam keimanan dan tujuan yang sama.

Anwar mengingatkan bahwa dengan menghargai perbedaan, masyarakat bisa menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan damai. Hal ini, lanjutnya, sangat diperlukan untuk memperkuat persatuan Nasional.

Peran Demokrasi dalam Mengelola Perbedaan

Dalam konteks demokrasi, Anwar berpendapat bahwa warga negara perlu belajar untuk beradaptasi dengan perbedaan. Menurutnya, hal ini merupakan bagian dari dinamika yang memperkaya wawasan dan pengetahuan masyarakat. “Perbedaan harus dilihat sebagai sebuah kekuatan,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa jika perbedaan dikelola dengan baik, maka masyarakat akan menciptakan harmoni yang saling menguntungkan. Ini adalah langkah penting dalam menjaga stabilitas sosial dan nasional.

Anwar juga mengingatkan bahwa dialog antar berbagai pihak diperlukan untuk memperkuat komunikasi dan mengurangi sekat-sekat yang ada. Dengan demikian, masyarakat dapat lebih memahami sudut pandang yang berbeda.

Pentingnya Saling Memahami di Tengah Keragaman

Sebagai bangsa dengan slogan ‘Bhinneka Tunggal Ika’, penting bagi setiap individu untuk memahami bahwa perbedaan tidak dapat dihindari. Anwar memberi contoh bahwa lebih dari 80 organisasi Islam di Indonesia masing-masing memiliki nilai dan praktik yang berbeda. Ia mendorong masyarakat untuk tidak hanya toleran, tetapi juga aktif dalam merayakan perbedaan tersebut.

“Kita harus saling menghormati, tidak hanya menerima,” ujarnya. Oleh karena itu, toleransi harus dijadikan sebagai bagian dari sikap sehari-hari dalam berinteraksi dengan sesama.

Di dalam konteks puasa, Anwar mengajak agar seluruh umat Islam di Indonesia tetap bersatu dan tidak terpecah belah akibat perbedaan dalam menentukan hari awal puasa. Dialog dan pengertian harus selalu diutamakan.

Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari, yang dihasilkan melalui pemantauan hilal. Keputusan ini diambil setelah hilal tidak terlihat sesuai kriteria yang ditentukan. Di sisi lain, organisasi Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada 18 Februari mengikuti metode baru yang mereka terapkan.

Perbedaan ini menunjukkan betapa beragamnya cara pandang di antara organisasi—meskipun ada pendekatan baru dari Muhammadiyah, seperti Kalender Hijriah Global Tunggal. Metode tersebut diperkenalkan untuk mengakomodasi perbedaan dan meminimalkan kebingungan di kalangan umat.

Anwar berharap agar setiap organisasi dapat memahami alasan di balik perbedaan ini dan menghargainya sebagai bagian dari khazanah keilmuan Islam. Dengan pendekatan yang saling menghormati, diharapkan umat dapat melaksanakan ibadah dengan tenang dan penuh rukun.

Iklan