Di usianya yang mendekati satu abad, Sarmi Subari Rasyid menunjukkan semangat yang tak lekang oleh waktu saat bersiap untuk menunaikan ibadah haji. Meskipun telah berusia 90 tahun, energi dan niatnya untuk menjalani ibadah suci ini tidak pernah pudar.
Dikenal dengan sapaan akrab Mbah Sarmi, wanita asal Madiun ini merupakan jemaah haji tertua yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 24 di Embarkasi Surabaya. Lahir pada bulan Mei 1936, Sarmi telah melalui banyak perubahan sepanjang hidupnya, termasuk masa sebelum dan sesudah Indonesia merdeka.
Kesehariannya diisi dengan berbagai aktivitas fisik yang membuatnya tetap bugar. Kebiasaan Mbah Sarmi untuk tidak berdiam diri membantunya tetap aktif bahkan di usia senjanya. Ia senang menanam sayuran, membersihkan lingkungan, dan membantu pekerjaan rumah tangga lainnya.
Persiapan Mental dan Fisik Jemaah Haji Lansia
Mbah Sarmi memiliki kebiasaan hidup yang sehat meskipun usianya sudah senja. Dia melakukan jalan kaki setiap hari, baik menuju musala maupun masjid yang dekat dengan tempat tinggalnya. Kesehatan fisiknya menjadi prioritas setiap harinya.
“Persiapanku untuk haji adalah menjaga fisik tetap sehat dan memiliki niat yang baik,” tuturnya saat ditemui di Asrama Haji Embarkasi Sukolilo, Surabaya. Dia menekankan pentingnya hubungan spiritual dengan Tuhan melalui ibadah yang konsisten.
Selain menjaga kesehatan, Mbah Sarmi juga telah merencanakan beberapa doa yang ingin dipanjatkan di depan Kabah. Harapannya bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk seluruh keluarganya yang ia inginkan untuk mengikuti jejaknya ke Tanah Suci.
Kebiasaan Unik yang Menyokong Kesehatan Mbah Sarmi
Meskipun banyak orang mencari berbagai cara untuk hidup sehat, Mbah Sarmi memiliki kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana namun berpengaruh besar. Salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatannya adalah kebiasaan mengonsumsi kopi setiap hari.
Putrinya, Wiwik Hariningsih, menjelaskan bahwa kopi seakan menjadi ‘suplemen’ ampuh bagi ibunya. Menurutnya, kopi telah membantu Mbah Sarmi tetap memiliki energi dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Jika tidak ada kopi, Ibu sering mengeluh pusing,” ungkap Wiwik. Ia menambahkan bahwa kopi yang diminum bukanlah merek khusus, hanya kopi sachet biasa yang mudah didapat.
Biaya Haji dan Dukungan Keluarga
Menunaikan ibadah haji tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Namun, Mbah Sarmi dapat berangkat ke Tanah Suci dengan dana yang berasal dari tabungan pribadi dan pensiun almarhum suaminya. Uang tersebut digunakan untuk membiayai perjalanan haji yang sangat berarti baginya.
Wiwik menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan hasil tabungan dari pensiun sang ayah, yang merupakan seorang purnawirawan ABRI. Selain itu, semua anggota keluarga juga memberikan dukungan agar Mbah Sarmi dapat menunaikan ibadah haji ini.
Wiwik juga merasa senang bisa mendampingi ibunya selama perjalanan ini. Ia menyebutkan bahwa semua anak-anak Mbah Sarmi kini telah memiliki rumah masing-masing, sehingga keluarga bisa saling membantu tanpa mengganggu kehidupan satu sama lain.



