Tampil dalam sebuah pertunjukan musikal bukan sekadar menampilkan kemampuan akting, melainkan juga menguji ketahanan fisik serta konsentrasi yang tinggi. Ini adalah pengalaman yang dirasakan oleh dua seniman berbakat, Teza Sumendra dan Tanta Ginting, saat mereka bersiap untuk pagelaran musikal bertajuk “Mar”. Keterlibatan mereka dalam proyek ini menjadi sarana untuk mengasah kemampuan vokal dan berkolaborasi dalam kelompok, menuntut disiplin dan komitmen yang tinggi.
Teza Sumendra mengungkapkan kegembiraannya dalam terlibat dalam proyek ini, karena ia menyadari bahwa berpartisipasi dalam musikal membawa banyak pelajaran berharga. “Bermain dalam musikal mengajarkan saya tentang pentingnya mengatur ego dan mengontrol suara, karena kita tidak bisa sembarangan dalam sebuah grup vokal,” jelasnya dengan penuh semangat.
Di dalam pertunjukan ini, para pemain akan dihadapkan pada tantangan membawakan beberapa lagu karya Ismail Marzuki. Setiap lagu memiliki tingkat kesulitan tersendiri, terutama dalam hal pembagian suara dan harmonisasi, yang mengharuskan semua anggota tim untuk selalu berkomunikasi dan saling memahami.
Tantangan dalam Mempertahankan Harmoni dan Melodi
Dalam pertunjukan “Mar”, yang digelar di kawasan hiburan, Teza mengemukakan bahwa fokus utama tidak sekadar pada jumlah lagu yang dinyanyikan. Melainkan, perhatian harus diarahkan pada ketepatan harmonisasi agar pertunjukan tetap harmonis dan tidak terjadi tabrakan suara di antara pemain. “Kami tidak hanya memikirkan jumlah lagunya, tetapi pada bagian yang harus dinyanyikan secara bersamaan,” tuturnya.
Keterampilan membagi suara ini sangat krusial, karena setiap penyanyi memiliki perannya masing-masing. “Kami harus selalu ingat peran yang dimiliki dan tidak mengganggu bagian suara orang lain,” tambahnya, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam sebuah pertunjukan musikal.
Keberhasilan pertunjukan sangat bergantung pada seberapa baik pemain dapat berkoordinasi dan mengembangkan rasa saling percaya di antara satu sama lain. Hal ini menciptakan suasana kerja tim yang solid dan meningkatkan kualitas pertunjukan keseluruhan.
Perasaan Tertekan dan Tantangan Hidup di Panggung
Tanta Ginting, rekan Teza, lebih lanjut berbagi pandangannya mengenai tekanan yang dirasakannya saat berlatih untuk pertunjukan ini. Ia menyoroti aspek “live” yang menjadi tantangan paling mendebarkan. Menurutnya, tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun, karena musik akan terus berjalan tanpa menunggu pemain yang melakukan kesalahan. “Gimana pun juga, kita harus ingat hal ini,” ujarnya.
Selama pertunjukan, kehadiran mic menjadi faktor penting yang menambah tantangan. “Jika ada kesalahan, musik tetap harus berjalan, dan itu membuat saya merasa lebih tertantang dan terinspirasi untuk memberikan yang terbaik,” Tanta menjelaskan. Rasa antusiasme ini menjadikan setiap latihan lebih berharga dan mendukung pertumbuhan mereka sebagai seniman.
Meskipun menghadapi tantangan yang semakin berat, Tanta merasa bahwa pengalaman ini lebih dari sekadar kesulitan. Ia melihat setiap tekanan sebagai kesempatan untuk berkembang. “Kesulitan itu justru membuat kami semakin ingin menciptakan sesuatu yang lebih baik di atas panggung,” tambahnya.
Proses Latihan yang Intensif dan Teratur
Untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan selama pertunjukan, seluruh anggota tim diwajibkan menjalani jadwal latihan yang sangat padat. Teza mengungkapkan bahwa pengulangan latihan yang dilakukan setiap hari menjadi kunci untuk memastikan seluruh materi lagu dapat diingat dengan baik. “Latihan yang konsisten merupakan cara terbaik untuk membuat semua lagu melekat dalam ingatan,” jelas Teza.
Pengalaman berlatih setiap hari juga menciptakan ikatan yang lebih kuat antar pemain. Mereka belajar saling mendukung dan memberikan umpan balik yang konstruktif selama sesi latihan. “Setiap latihan membuat kami tidak hanya belajar dari kesalahan, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan di antara kami,” akunya.
Dengan jadwal latihan yang ketat dan disiplin yang tinggi, Teza dan Tanta percaya bahwa mereka dapat menghadapi tantangan yang ada di depan. “Kami akan terus berlatih karena pertunjukan ini adalah hadiah bagi kami dan, tentunya, bagi penonton yang datang untuk menikmati setiap penampilan kami,” kata Teza optimis.


