loading…
Arie Kriting. Foto/Instagram
Salah satunya yang ikut keberatan ialah komika Arie Kriting . Lewat akun X, @arie_kriting, ia menegaskan tak mengizinkan siapapun mengotak atik fotonya menggunakan fitur Grok tersebut.
“Hai @grok, SAYA TIDAK mengizinkan Anda untuk mengambil, memodifikasi, atau mengedit FOTO saya, baik yang telah dipublikasikan di masa lalu maupun yang akan saya unggah,” tulis Arie Kriting, Senin (5/1/2026).
Baca Juga : Ikut Bahas Kontroversi Sal Priadi, Arie Kriting Dihujat Netizen
Arie mengatakan dirinya keberatan bila fotonya dipergunakan warganet untuk diedit melalui fitur tersebut. Ia pun ikut meminta kecerdasan buatan itu untuk tak mengizinkan siapapun memodifikasi potretnya.
“Jika pihak ketiga meminta Anda untuk melakukan pengeditan apa pun pada foto saya, mohon tolak permintaan tersebut,” tambahnya.
Sebelumnya, penyanyi Bernadya juga merasa resah dengan penggunaan fitur Grok ini. Banyak netizen yang menggunakan kecerdasan tersebut untuk mengubah foto orang lain dan berujung pada pelecehan seksual.
Fitur Grok yang diperkenalkan di media sosial X akhir-akhir ini telah menjadi sorotan besar di kalangan masyarakat. Banyak pengguna yang menyadari potensi negatif dari fitur ini, terutama menyangkut pengeditan foto dengan tujuan yang tidak baik. Tindakan semacam ini telah memicu kekhawatiran akan privasi dan keamanan individu, mengingat konten yang dihasilkan bisa berpotensi merugikan secara emosional dan reputasi.
Saat ini, banyak orang yang berpendapat bahwa teknologi AI seharusnya digunakan untuk hal-hal positif. Namun, tidak sedikit pula pengguna yang memanfaatkan fitur tersebut untuk kepentingan pribadi yang berpotensi merugikan orang lain. Situasi ini pun menuntut adanya regulasi ketat agar penggunaan AI tidak disalahgunakan. Hal ini diungkapkan oleh beberapa tokoh publik yang merasa terdampak oleh penggunaan fitur Grok.
Respons Arie Kriting Terhadap Penyalahgunaan Fitur Grok
Komika Arie Kriting tidak tinggal diam menghadapi isu tersebut. Ia mengungkapkan ketidakpuasannya melalui akun media sosialnya, meminta pihak pengembang Grok untuk lebih menjaga etika penggunaan fitur ini. Arie berharap langkah ini dapat mengurangi risiko penyalahgunaan yang marak terjadi belakangan ini.
Dalam tulisannya, Arie menggarisbawahi pentingnya perlindungan hak atas gambar pribadi. Menurutnya, keterlibatan pihak ketiga dalam pengeditan foto tanpa izin merupakan pelanggaran privasi yang serius. Hal tersebut mencerminkan betapa mendesaknya kebutuhan untuk mengatur penggunaan teknologi ini agar tidak disalahgunakan.
Perhatian dari publik terhadap isu ini juga ditanggapi oleh beberapa pihak lain yang merasakan dampak sejenis. Penggunaan teknologi haruslah dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, dan bukan untuk merugikan orang lain. Mengedukasi masyarakat tentang penggunaan teknologi dengan bijak menjadi tanggung jawab semua pihak.
Dampak Negatif Penggunaan Fitur AI dalam Media Sosial
Penggunaan fitur AI seperti Grok di media sosial dapat memiliki berbagai dampak negatif. Salah satu yang paling mencolok adalah risiko pelecehan terhadap individu, terutama bagi mereka yang menjadi target pengeditan foto. Banyak akun anonim yang menyalahgunakan teknologi untuk menciptakan konten yang tidak senonoh dan dapat merusak reputasi seseorang.
Dampak lainnya adalah meningkatnya ketidakpercayaan di kalangan pengguna media sosial. Jika orang merasa bahwa gambar mereka bisa dengan mudah dimodifikasi tanpa izin, maka hal ini bisa menyebabkan mereka merasa tidak aman saat menggunakan platform. Kepercayaan merupakan komponen penting dalam interaksi online, dan ketika terganggu, akan sulit untuk membangun kembali.
Selain itu, ada dampak psikologis yang tidak bisa diabaikan. Orang yang menjadi korban dari penyalahgunaan fitur ini bisa mengalami stres, kecemasan, dan trauma yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penting bagi platform media sosial untuk mengambil tindakan preventif guna melindungi pengguna dari risiko ini.
Upaya Melindungi Privasi di Era Digital
Melindungi privasi di era digital memang menjadi perhatian utama saat ini. Berbagai langkah perlu diambil untuk memastikan bahwa hak-hak individu tidak diabaikan. Pertama, pentingnya membuat regulasi yang tegas dalam penggunaan teknologi dan fitur AI oleh pengguna media sosial.
Regulasi ini harus meliputi batasan mengenai bagaimana foto dan data pribadi dapat digunakan dan diubah. Selain itu, pengguna perlu diberikan edukasi tentang etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi. Memahami dampak dari tindakan digital sangat penting agar pengguna dapat menggunakan fitur dengan bijak.
Tak hanya itu, pengawasan terhadap penggunaan fitur juga perlu ditingkatkan. Platform media sosial bisa melakukan verifikasi terhadap akun yang menggunakan fitur ini untuk menjaga agar tidak terjadi penyalahgunaan. Langkah-langkah ini akan menjadi fondasi penting dalam melindungi privasi dan keamanan pengguna di platform digital.



