Bentrokan yang melibatkan warga Desa Longgar dan Desa Apara di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, terjadi pada Jumat pagi, menandai sebuah peristiwa tragis di tengah kerukunan masyarakat. Insiden ini menimbulkan dua kematian dan beberapa luka di antara warga setempat yang terlibat dalam konflik berkepanjangan.

Korban yang tewas dalam bentrokan tersebut diidentifikasi sebagai Antoni Sareman dari Desa Longgar dan Hery Marlisa. Dengan enam orang lainnya yang mengalami luka-luka, insiden ini menunjukkan potensi ketegangan yang bisa memecah persatuan antar desa.

Dari enam korban luka, tiga di antaranya berasal dari Desa Longgar, yaitu Aleksander Djontar, Abdul Haji Rahantan, dan Laurensia Jerwy. Sementara itu, tiga lainnya adalah warga Desa Apara, yakni Remon Onaola, Muharam Difinubun, dan Karel Gwejor.

Awal Mula Bentrokan yang Menyakitkan di Aru Selatan

Kronologi bentrokan ini bermula ketika dua warga dari Desa Longgar, Lorensius Jerwy dan Maksimus Kobaun, berusaha membeli minuman keras di Desa Apara. Pada kesempatan itu, mereka dihadang oleh sekelompok pemuda dari Desa Apara yang berjumlah sepuluh orang saat mendekati perbatasan desa.

Insiden ini berlanjut dengan adanya pemukulan yang memaksa Lorensius dan Maksimus melarikan diri ke Desa Longgar untuk mencari pertolongan. Dalam keadaan panik, mereka mengumpulkan sejumlah pemuda dari desanya untuk kembali ke lokasi demi mencari pelaku pemukulan.

Ketika mereka mencapai perbatasan desa, kekerasan tidak terhindarkan dan bentrokan melibatkan berbagai senjata seperti parang dan busur panah. Kejadian ini sempat dilerai oleh seorang pendeta, namun upaya tersebut gagal menghentikan konflik yang telah meluas antar kedua desa.

Respons Pemerintah dalam Mengatasi Ketegangan Sosial

Saat bentrokan semakin meruncing, kehadiran aparat pemerintah dan kepolisian sangat diperlukan. Kapolres Aru, AKBP Albert Perwira Sihite, menyatakan bahwa pihaknya telah menerjunkan sekitar tiga puluh personel Brimob dan anggota Polres ke lokasi insiden untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, juga mengambil langkah cepat dengan terjun langsung ke lokasi untuk mencari solusi. Salah satu langkah strategisnya adalah mengumpulkan tokoh masyarakat dari kedua desa untuk meredakan ketegangan dan menghindari provokasi lebih lanjut.

Dalam dialog tersebut, Timotius mengedepankan pentingnya dialog antar warga agar mereka bisa menahan diri dan tidak terpengaruh oleh isu yang dapat memecah belah hubungan antar desa. Ia berharap situasi bisa kembali normal dan perdamaian tercapai dengan cepat.

Pemicu Utama Konflik Berdasarkan Lahan dan Kepemilikan

Penyebab utama dari bentrokan ini mengacu pada sengketa lahan yang terus berlanjut di antara kedua desa. Selama ini, klaim kepemilikan lahan tersebut menjadi sumber masalah dan ketegangan, membuat hubungan antara warga sering kali tidak harmonis.

Banyak ahli setempat menilai bahwa kurangnya komunikasi antara kedua pihak adalah faktor utama yang memicu konflik berkepanjangan. Masyarakat perlu didorong untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah yang ada demi menghindari kejadian serupa di masa depan.

Melihat peristiwa ini, ada harapan bagi masyarakat bahwa melalui cara damai dan dialog, akar permasalahan bisa diselesaikan dengan baik. Hal ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga stabilitas daerah dan keamanan sosial di Kabupaten Kepulauan Aru.

Iklan