Penyintas banjir di Aceh Tamiang kini menghadapi tantangan baru akibat debu yang berasal dari lumpur kering yang memenuhi jalan-jalan. Masalah ini menjadi semakin krusial karena dampaknya langsung terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas sehari-hari mereka.
Dalam pantauan terbaru, perjalanan dari Simpang Opak ke Kecamatan Kuala Simpang menunjukkan kondisi jalan yang tidak layak. Debu tebal menutupi kawasan tersebut, dan saat sore hari, jarak pandang bahkan mencapai 50 meter, memperburuk situasi dan membuat pengguna jalan kesulitan berlalu lalang.
Kendaraan yang melintas setiap saat mengangkat material debu ke udara, yang bukan hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga menyebabkan masalah pernapasan bagi warga. Situasi ini mendesak untuk segera diatasi agar tidak semakin membahayakan kesehatan warga setempat.
Penyebab Munculnya Debu di Aceh Tamiang dan Dampaknya bagi Kesehatan
Akibat dari banjir yang melanda, lumpur tebal meninggalkan jejak yang menyulitkan. Banyak bagian jalan dipenuhi sisa lumpur yang kemudian mengering dan menjadi debu, terutama di jalanan protokol yang dilalui banyak kendaraan.
Dampak dari debu ini serius, terlebih bagi kesehatan masyarakat. Warga terpaksa menggunakan masker berlapis saat beraktivitas di luar untuk melindungi diri dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang mungkin timbul akibat paparan debu.
Pihak kepolisian dan TNI pun turun tangan dengan menyiram jalan-jalan protokol untuk mengurangi debu di pagi hari. Namun, meskipun telah dilakukan penyiraman, kondisi jalan tetap berdebu menjelang siang hari.
Usaha Pembersihan dan Kendala yang Dihadapi
Ilham, seorang warga Karang Baru, menyatakan bahwa debu ini muncul karena lumpur yang menutupi jalan tidak dipindahkan ke tempat lain. Ketidakberhasilan dalam mengelola sisa lumpur ini memicu masalah baru, menciptakan debu saat keadaan mengering.
Ia menjelaskan, “Sejak 21 Desember lumpur di sini sudah kering, sehingga berdebu, dan meskipun disiram, tetap tidak bisa hilang.” Di Harapan, pembersihan dengan alat berat juga dilakukan, tetapi masih banyak titik yang memerlukan perhatian lebih.
Di lokasi-lokasi tertentu, terutama dekat hunian sementara, alat berat terlihat berupaya membersihkan lumpur. Namun, di kawasan Kuala Simpang, fasilitas dan sumber daya untuk pembersihan masih sangat minim.
Statistik Terkait Penyakit Pascabencana di Aceh Tamiang
Data terbaru dari Dinas Kesehatan Aceh menunjukkan bahwa penyakit ISPA mulai mendominasi di kalangan penyintas bencana. Hingga tanggal 3 Januari, sudah tercatat 17.260 kasus, sementara penyakit kulit mencapai 13.627 kasus.
Keadaan ini menunjukkan betapa urgent-nya untuk segera menangani pembersihan lumpur dan debu yang menjadi ancaman kesehatan bagi masyarakat. Adanya meningkatnya angka penyakit juga harus diwaspadai sebagai tanda bahaya bagi kondisi kesehatan umum masyarakat setempat.
Respons cepat dari pihak berwenang sangat dibutuhkan untuk meminimalkan dampak buruk ini. Penerapan langkah-langkah preventif menjadi sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.
Pentingnya Kolaborasi untuk Mengatasi Masalah Lingkungan
Untuk mengatasi masalah ini, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi kesehatan sangatlah penting. Upaya bersama dapat membantu menemukan solusi terbaik untuk membersihkan titik-titik yang terdampar oleh lumpur dan debu.
Warga berharap agar pemerintah dapat segera memindahkan sisa-sisa lumpur yang menjadi penyebab utama debu. Selain itu, penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai menjadi prioritas agar masyarakat bisa mendapatkan perawatan yang diperlukan ketika sakit.
Masalah ini tidak hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi memerlukan partisipasi aktif dari semua elemen. Seiring waktu, diharapkan kolaborasi ini dapat menghadirkan perubahan positif dan pemulihan bagi wilayah yang terkena bencana.



