Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan terjadinya erupsi yang signifikan. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 9 Februari 2026, sekitar pukul 17.00 WIB dan berlangsung selama 35 detik, mengeluarkan abu vulkanik yang cukup tinggi meskipun tingginya tidak dapat dipantau secara maksimal akibat cuaca yang buruk.
Kepala Pos Pengamat Gunung Api (PGA), Ahmad Rifandi, mengimbau warga yang tinggal di dekat lereng gunung, terutama dalam radius 3 kilometer dari kawah, untuk meningkatkan kewaspadaan. Dia menekankan bahwa potensi terjadinya banjir lahar dingin harus diantisipasi oleh masyarakat setempat.
Menurut Ahmad, erupsi kali ini mencatatkan amplitudo maksimum sebesar 24,3 milimeter. Namun, tinggi kolom erupsi tidak dapat terukur karena lapisan kabut tebal yang menutupi area tersebut.
Aktivitas Vulkanik dan Bahaya Banjir Lahar
Masyarakat di sekitar Gunung Marapi kini berada pada Status Level II atau Waspada. Pihak berwenang menghimbau agar penduduk dan pengunjung tidak mendekati kawasan berbahaya, karena aktivitas yang tidak terduga bisa terjadi kapan saja.
Ahmad juga menjelaskan bahwa potensi bahaya lahar atau aliran lumpur sangat mungkin terjadi, terutama ketika hujan lebat. Oleh karena itu, semua masyarakat yang tinggal di dekat sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung harus lebih berhati-hati.
Jika hujan turun, lahar bisa mengalir dengan cepat, membawa material vulkanik serta lumpur berbahaya dari puncak gunung ke daerah lembah. Hal ini sangat membahayakan bagi penduduk, sehingga penting untuk terus memantau perkembangan situasi.
Rekomendasi untuk Masyarakat Setempat
Pihak PGA memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Marapi. Salah satunya adalah larangan memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah, di mana resiko lebih tinggi hadir.
Selain itu, Ahmad mengingatkan agar masyarakat di daerah sekitar tetap memperhatikan potensi lahar yang dapat muncul sewaktu-waktu. Kewaspadaan tinggi adalah kunci untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Warga juga diharapkan untuk mengikuti informasi yang disampaikan oleh pihak berwenang, serta menjauhi daerah-daerah yang berpotensi terancam oleh letusan lebih lanjut. Kesiapsiagaan adalah langkah preventif yang harus selalu diterapkan.
Sejarah Erupsi Gunung Marapi
Gunung Marapi dikenal sebagai salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia dengan sejarah erupsi yang panjang. Dalam beberapa dekade terakhir, gunung ini telah mengalami sejumlah kali erupsi, yang menandakan aktifitas geologis yang perlu diwaspadai.
Setiap erupsi membawa ancaman bukan hanya bagi ekosistem tetapi juga keselamatan manusia yang tinggal di sekitar. Oleh karena itu, pemahaman akan sejarah erupsi bisa menjadi pedoman penting bagi masyarakat dalam menghadapi situasi seperti ini.
Penelitian dan survei terus dilakukan untuk memantau kondisi Gunung Marapi. Dengan perkembangan teknologi, data yang akurat bisa membantu masyarakat mempersiapkan diri sebelum bencana datang, meningkatkan respon dan mitigasi risiko yang ada.



