Pesawat jenis ATR 42-500 yang berangkat dari Yogyakarta menuju Makassar dilaporkan hilang kontak pada hari Sabtu di sekitar Pegunungan Karst Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kejadian ini mengundang perhatian luas, dan berbagai pihak berupaya mencari keterangan lebih lanjut mengenai insiden yang terjadi.

Saksi-saksi di daerah sekitar mengaku mendengar suara yang mirip dengan ledakan sebelum pesawat dinyatakan hilang kontak. Suara itu terdengar pada waktu yang hampir bersamaan dengan laporan hilangnya pesawat tersebut.

Salah satu warga setempat, Daeng Bahar, menyebutkan bahwa suara ledakan itu berasal dari arah Gunung Lapiau, Leang-leang. Hal ini menjadi tanda tanya besar mengenai kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Kondisi Terkini Mengenai Hilangnya Pesawat ATR 42-500

Informasi terbaru menunjukkan bahwa Basarnas Makassar mengonfirmasi telah menerima laporan dari masyarakat mengenai suara ledakan dan asap yang muncul pasca insiden. Saat ini, tim SAR tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan keadaan sebenarnya di lapangan.

Hamsidar, perwakilan dari Basarnas, menegaskan komitmen mereka untuk menemukan pesawat yang dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan difokuskan pada pencarian dan penanganan informasi yang masuk dari masyarakat.

Banyak pertanyaan yang muncul di benak publik, terutama mengenai langkah-langkah yang diambil oleh pihak berwenang untuk menangani insiden ini. Masyarakat berharap agar semua potensi informasi bisa membantu dalam operasi pencarian yang sedang berlangsung.

Penjelasan Resmi dari Kementerian Perhubungan

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F Laisa, memberikan penjelasan mengenai penerbangan pesawat ATR ini. Pesawat tersebut sedang dalam perjalanan menuju Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar saat mengalami masalah.

Pesawat yang diproduksi pada tahun 2000 ini melaksanakan penerbangan dari Yogyakarta dan dipiloti oleh Capt Andy Dahananto. Penjelasan dari Lukman memberikan gambaran mengenai keadaan pesawat sebelum hilang kontak.

Menurut keterangan yang diberikan, pada pukul 04.23 UTC, pesawat telah diarahkan untuk melakukan pendekatan menuju landasan pacu di Makassar. Namun, dalam proses itu, terjadi kesalahan navigasi yang menyebabkan pesawat tidak berada pada posisi yang seharusnya.

Proses Penyelamatan dan Koordinasi Tim SAR

Setelah terjadi pemutusan komunikasi, pihak Air Traffic Control mengumumkan fase darurat yang diindikasikan dengan istilah DETRESFA. Ini merupakan langkah awal penting yang menandakan bahaya yang dihadapi pesawat tersebut.

Koordinasi dilakukan antara AirNav Indonesia dengan Basarnas dan kepolisian untuk memastikan proses pencarian berjalan dengan baik. Banyak pihak terlibat dalam upaya ini, menandakan pentingnya insiden yang terjadi.

Kondisi cuaca pada saat kejadian terlihat cukup baik, dengan jarak pandang mencapai 8 kilometer dan sedikit berawan. Namun, tidak ada yang bisa memastikan apakah kondisi tersebut berpengaruh terhadap insiden yang menimpa pesawat.

Iklan