Di kota Tangerang Selatan, masalah pengelolaan sampah menjadi isu yang semakin mendesak. Selama masa tanggap darurat, semua limbah rumah tangga dibuang ke lokasi pembuangan di Cileungsi, Kabupaten Bogor, untuk menghindari penumpukan yang lebih parah.

Setiap hari, sekitar 200 ton sampah dikirim ke PT Aspex Kumbong, yang menimbulkan biaya pengelolaan yang cukup besar. Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, menyebutkan bahwa biaya tipping fee yang harus dibayar mencapai 90 juta rupiah per hari, yang menimbulkan beban tambahan bagi anggaran kota.

Meskipun langkah ini bersifat sementara, ketatnya regulasi lingkungan membuat semua proses harus terlaksana dengan baik dan transparan. Kementerian Lingkungan Hidup pun telah diinformasikan mengenai situasi ini dan memberikan dukungan bagi upaya yang dilakukan pemerintah lokal.

Analisis Masalah Sampah di Tangerang Selatan yang Semakin Mengkhawatirkan

Masalah sampah di Tangerang Selatan telah menjadi perhatian publik, terutama sejak penutupan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang pada akhir tahun 2025. Penutupan ini memicu penumpukan sampah di berbagai sudut kota, termasuk jalan raya dan pemukiman warga.

Pilar mengevaluasi berbagai opsi untuk mengatasi persoalan ini, termasuk mengembangkan fasilitas pemrosesan sampah yang lebih efektif. Namun, sebelum itu, diperlukan lahan kosong seluas 5000 meter persegi untuk mendirikan mesin pencacah sampah yang direncanakan di lokasi baru.

Rencana pembangunan ini langsung menemui tantangan, karena masyarakat sekitar juga perlu dilibatkan dalam pembicaraan terkait keberadaan fasilitas tersebut. Proses pengadaan lahan tidak bisa dilakukan secara instan, sehingga diperlukan waktu dan pendekatan yang hati-hati.

Rencana Jangka Panjang untuk Mengatasi Isu Sampah

Salah satu solusi jangka panjang yang diusulkan adalah proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang akan dilaksanakan di TPA Cipeucang. Proyek ini diharapkan dapat menangani limbah dengan lebih efisien dan memberikan tambahan sumber energi terbarukan bagi kota.

Namun, proyek ini juga memerlukan lahan yang cukup luas, yakni sekitar 5 hektare. Pilar menekankan pentingnya kerja sama dengan pihak-pihak yang berwenang agar proyek ini dapat berjalan sesuai rencana.

Selama menunggu pembangunan fasilitas baru, pemerintah kota masih harus mencari solusi lain yang lebih efektif. Kemitraan dengan berbagai pihak pun menjadi kunci untuk mencapai pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Strategi Pengelolaan Sampah yang Efektif dan Berkelanjutan

Menciptakan strategi pengelolaan sampah yang berkelanjutan bukanlah tugas yang mudah. Pilar mendorong partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah di tingkat rumah tangga, seperti pemilahan sampah dan penggunaan bahan ramah lingkungan.

Langkah-langkah ini tidak hanya akan mengurangi beban TPA, tetapi juga bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih. Edukasi bagi warga merupakan bagian penting dari strategi ini, agar mereka lebih memahami dampak dari pembuangan sampah yang sembarangan.

Dengan pelibatan aktif dari berbagai pihak, diharapkan solusi atas masalah sampah di Tangerang Selatan dapat terwujud. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mencari inovasi dan teknologi terbaru untuk menangani masalah ini secara tuntas.

Iklan