Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini mengeluarkan peringatan mengenai potensi gelombang tinggi yang akan terjadi di berbagai wilayah perairan Indonesia. Peringatan ini diberlakukan mulai dari tanggal 17 hingga 20 Januari 2026, sebagai dampak dari aktivitas cuaca ekstrem di sejumlah titik kritis di lautan.
Peningkatan gelombang ini diakibatkan oleh adanya dua sistem cuaca utama, yaitu Siklon Tropis Nokaen yang terdeteksi di Laut Filipina dan Bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat. Kedua fenomena ini berkontribusi pada lonjakan kecepatan angin dan tinggi gelombang yang cukup signifikan.
Ergunanya keadaan ini memberikan dampak yang luas di wilayah perairan Indonesia. Secara umum, pola angin di bagian utara Indonesia terpantau bergerak dari arah barat laut ke timur laut dengan kecepatan antara 8 hingga 25 knot, yang menjadi acuan bagi para pelaut dan nelayan.
Daftar Perairan dengan Potensi Gelombang Sedang (1,25 – 2,5 Meter)
Peningkatan gelombang dalam kategori sedang diperkirakan akan terjadi di beberapa wilayah perairan. Adapun sejumlah area yang berpotensi mengalami gelombang tinggi ini antara lain adalah Selat Malaka bagian utara dan Samudra Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Nias.
Selain itu, wilayah Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta juga termasuk dalam kategori ini. Wilayah lainnya yang harus diwaspadai mencakup Selat Karimata bagian utara, Selat Makassar bagian selatan, serta Laut Jawa baik bagian barat, tengah, maupun timur.
Gelombang tengah ini juga diprediksi akan terjadi di Laut Sumbawa, Laut Bali, Laut Flores, Teluk Bone, dan Laut Sulawesi, baik di bagian tengah maupun timur. Daftar ini diakhiri dengan wilayah Laut Maluku, Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafuru bagian utara.
Daftar Perairan dengan Potensi Gelombang Tinggi (2,5 – 4,0 Meter)
Sementara untuk gelombang tinggi yang berpotensi mencapai 4,0 meter, wilayah yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai, Bengkulu, hingga Lampung. Ini adalah kawasan yang sangat rentan terhadap gelombang besar dan berbahaya.
Di samping itu, Samudra Hindia selatan Banten serta Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur juga terdeteksi sebagai wilayah dengan potensi gelombang tinggi. Selain itu, Samudra Hindia selatan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur juga harus diwaspadai karena dapat terpengaruh oleh tinggi gelombang yang ekstrem.
Laut Arafuru dan juga Samudra Pasifik utara Maluku merupakan area lain yang tercatat berisiko mengalami gelombang tinggi selama periode ini. Semua wilayah tersebut harus mendapatkan perhatian ekstra dari semua pihak, terutama dalam aspek keselamatan navigasi laut.
Pentingnya Kesadaran dan Kewaspadaan Terhadap Gelombang Tinggi
Kondisi gelombang yang tinggi ini tentu saja membawa risiko yang besar bagi keselamatan pelayaran. BMKG mengingatkan bahwa potensi ancaman ini juga berlaku bagi berbagai moda transportasi laut. Oleh karena itu, kesadaran dan kewaspadaan sangat dibutuhkan, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor perikanan dan maritim.
Nelayan, misalnya, harus memperhatikan kondisi cuaca sebelum berlayar. Disarankan untuk tidak melaut ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Hal ini penting untuk mengurangi risiko kecelakaan yang dapat terjadi di lautan.
Dalam konteks transportasi laut, kesiapan menghadapi situasi darurat juga menjadi tanggung jawab operator kapal. Kapal ferry, kapal tongkang, dan moda transportasi laut lainnya perlu mematuhi batasan kecepatan angin dan tinggi gelombang untuk menjaga keselamatan penumpang dan kru di dalamnya.
Peran Masyarakat dalam Menghadapi Gelombang Tinggi
Masyarakat yang tinggal di daerah pesisir diharapkan untuk selalu memantau informasi terbaru dari BMKG. Ketika peringatan gelombang tinggi dikeluarkan, tindakan preventif seperti menghindari aktivitas laut perlu diambil untuk memastikan keselamatan diri dan keluarga.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca dan gelombang dengan baik. Di tengah perubahan iklim yang semakin tak terduga, pemahaman tentang keselamatan di laut harus menjadi prioritas bagi semua pihak, dari nelayan hingga wisatawan.
Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan kesadaran tinggi terhadap keselamatan navigasi. Dengan demikian, kita dapat meminimalisir potensi risiko yang seiring dengan datangnya gelombang tinggi di perairan Indonesia.



