Warga di Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten, kini tengah menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan akibat banjir yang kerap melanda wilayah mereka. Di bulan Januari 2026 saja, tercatat sudah empat kali banjir terjadi, mengakibatkan banyak rumah terendam dan aktivitas sehari-hari terhenti.

Ketua Karang Taruna Desa Pamarayan, Madroni yang sering dipanggil Away, mengungkapkan situasi ini dengan nada prihatin. “Banjir sudah menjadi bagian dari kehidupan kami di sini, dan kali ini justru yang terburuk,” ujarnya, menyoroti dampak yang semakin parah setiap tahun.

Ia melanjutkan bahwa kali ini, genangan air sudah merendam permukiman selama dua hari dan terus bertambah. Meskipun warga sudah terbiasa menghadapi bencana ini, rasa waspada tetap menghinggapi mereka.

Penyebab Banjir yang Menjadi Rutinitas Warga

Banjir yang menghantui Pamarayan setiap tahunnya diakibatkan oleh meluapnya Sungai Susukan dan Sungai Cikambuy. Data dari Polres Serang menyebutkan tinggi muka air dapat bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga mencapai 1,5 meter di beberapa lokasi.

Selain itu, kondisi geografis dan saluran air yang tidak memadai semakin memperburuk situasi. Warga juga menyesalkan minimnya perhatian dari pemerintah untuk menangani permasalahan banjir yang sudah berlangsung lama.

“Banjir bukan hanya masalah air, tetapi juga dampak sosial seperti pendidikan yang terhambat dan aktivitas ekonomi yang terhenti,” ungkap Away. Aktivitas di desa menjadi terhenti, yang mengakibatkan kerugian bagi banyak pihak.

Upaya Warga Menghadapi Banjir Bersama

Walaupun ketersediaan lokasi pengungsian belum ada, warga Pamarayan berusaha saling membantu satu sama lain. Mereka yang rumahnya terendam memilih untuk mengungsi di rumah tetangga yang tidak terdampak banjir.

Away dan warga lainnya berinisiatif membuat rakit sebagai solusi sementara untuk membantu mobilitas. Dengan rakit ini, mereka bisa menyeberangkan sepeda motor, lansia, serta anak-anak yang harus pergi ke sekolah.

“Bagi kami, saling membantu adalah suatu keharusan. Kami mencoba untuk tetap bertahan dan tidak putus asa,” kata Away menekankan pentingnya solidaritas dalam mengatasi bencana ini.

Dampak Banjir Terhadap Pendidikan dan Ekonomi

Banjir di Pamarayan tidak hanya berdampak pada tempat tinggal, tetapi juga mengganggu kegiatan belajar mengajar. Sekolah seperti SMAN 1 Pamarayan mengalami kerusakan akibat terendam air, dengan ketinggian genangan mencapai 20-40 sentimeter.

Hal ini membuat proses pembelajaran menjadi tidak efektif, dan banyak siswa terpaksa tidak bisa hadir. “Kami berharap pemerintah segera mencari solusi agar pendidikan kami tidak terganggu lebih lanjut,” ujar salah satu guru di sekolah tersebut.

Ekonomi warga pun ikut terpukul. Banyak dari mereka yang bergantung pada pekerjaan harian dan saat banjir, semua aktivitas ekonomi terhenti. “Setiap kali banjir, kami kehilangan penghasilan dan tidak ada jaminan untuk kembali beroperasi,” tambah Away.

Iklan