Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, mengemukakan bahwa saat ini sangat penting untuk memperkuat industri pertahanan domestik. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi kemandirian nasional yang mampu mendukung ketahanan negara dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Dave menekankan bahwa sektor pertahanan bukan hanya cukup sebagai pilar penting, tetapi juga harus dikelola secara konsisten agar menghasilkan kebijakan yang efektif dan anggaran yang berkesinambungan. Sinergi antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan sektor keuangan sangat dibutuhkan untuk memperkuat industri ini.

“Diperlukan kebijakan strategis yang memandu penguatan industri pertahanan dalam negeri, seperti menjaga konsistensi UU Nomor 16 Tahun 2012. Hal ini terutama terkait dengan kewajiban penggunaan produk lokal dalam pengadaan,” tuturnya.

Pentingnya Penguatan Industri Pertahanan dalam Negeri

Dalam rangka meningkatkan industri pertahanan, diperlukan optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Selain itu, penting untuk mengembangkan peta jalan jangka panjang yang terintegrasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertahanan dan lembaga riset.

Insentif fiskal juga dinilai penting untuk mendukung penelitian dan pengembangan (R&D) serta skema alih teknologi yang terukur. “Inovasi tidak hanya sekadar perakitan, melainkan perlu sampai pada penguasaan desain dan rekayasa,” ujar Dave lebih lanjut.

Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada belanja operasional, tetapi juga memperkuat pengembangan industri pertahanan. Proyek strategis seperti pembangunan kapal perang dan kendaraan tempur sudah berjalan dengan pola pembiayaan yang campuran, sehingga memudahkan penguatan fondasi industri pertahanan nasional.

Tantangan dan Peluang dalam Pengadaan Alutsista

Meskipun ada tantangan dalam mengadakan alutsista tanpa mengandalkan impor, Indonesia mengalami tren positif dalam meningkatkan produksi lokal komponen. Perusahaan seperti PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia menunjukkan kemampuan yang semakin meningkat dalam memproduksi alutsista dengan kandungan lokal yang lebih besar.

BUMN dalam sektor pertahanan berperan sebagai tulang punggung, sedangkan sektor swasta menjadi mitra strategis dengan menyediakan komponen dan teknologi yang dibutuhkan. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta daya saing industri pertahanan dalam negeri.

Dalam konteks ini, beberapa BUMN industri pertahanan telah membuktikan peningkatan kapabilitas produksi, baik untuk kendaraan tempur maupun pesawat terbang. Hal ini membuka peluang untuk memperluas penetrasi produk ke pasar internasional.

Peran Sektor Swasta dalam Industri Pertahanan

PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) merupakan salah satu contoh perusahaan swasta yang berperan penting dalam industri ini. Mereka memproduksi berbagai komponen penting seperti peluru dan komponen mekanik yang membantu mengurangi ketergantungan pada pemasok luar negeri.

Perusahaan lain yang juga aktif adalah PT Republik Defensindo yang memproduksi kendaraan militer. Dengan kolaborasi bersama BUMN, mereka ikut berkontribusi dalam peningkatan kapasitas produksi peluru dan amunisi untuk kebutuhan angkatan bersenjata.

Pentingnya peran swasta dalam industri pertahanan tidak bisa diabaikan. Membuka peluang bagi berbagai perusahaan untuk berpartisipasi akan membuat ekosistem industri semakin beragam dan kompetitif.

Dukungan Anggaran dan Kemandirian Pertahanan

Anggota Komisi I DPR RI, Oleh Soleh, mengatakan bahwa dukungan anggaran untuk sektor pertahanan dalam beberapa tahun terakhir telah meningkat. Modernisasi alutsista semakin diperkuat melalui skema pembiayaan kreatif seperti Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Ia mengingatkan bahwa fokus ke depan mesti pada peningkatan kapasitas produksi nasional, bukan sekadar pengadaan barang jadi. Selain itu, penting untuk tetap menjalin kolaborasi dengan pihak internasional dalam pengadaan teknologi tinggi.

Keberlanjutan sektor pertahanan sangat bergantung pada dukungan dari lembaga keuangan yang memahami kebutuhan jangka panjang serta risiko yang terukur. Keterlibatan BUMS dalam memperkuat industri pertahanan sangat penting agar tidak hanya mengandalkan beberapa pemain besar.

Iklan