Insiden mengerikan terjadi di Bandung Barat ketika seorang pelajar SMP berusia 14 tahun ditemukan tewas. Dua remaja, seorang berusia 16 tahun dan yang lainnya 17 tahun, diduga terlibat dalam pembunuhan tersebut karena masalah pribadi yang berkaitan dengan pertemanan mereka.

Penemuan jasad ZAAQ terjadi setelah korban dinyatakan hilang, dan kejadian ini mengguncang masyarakat setempat. Dalam proses investigasi, polisi mengungkapkan latar belakang kejadian yang sangat menyedihkan dan menggambarkan bagaimana sebuah hubungan pertemanan dapat berujung pada tindakan kekerasan yang fatal.

Motif Pembunuhan yang Berakar dari Hubungan Pribadi

Motif dari pembunuhan ini tercermin dalam dinamika hubungan antara pelaku dan korban. Polisi menyatakan bahwa pelaku merasa sakit hati setelah korban memutuskan hubungan di antara mereka, yang telah berlangsung selama tiga tahun.

Remaja berinisial YA dan AP mengaku berangkat ke Bandung dengan niat untuk menghentikan hidup korban. Keduanya sudah saling mengenal lama, dan keputusan korban untuk memutuskan tali persahabatan dianggap sebagai pemicu utama dari tindakan mereka yang sangat brutal.

Kapolres Cimahi, Ajun Komisaris Besar Polisi Niko N. Adi Putra, menyebutkan bahwa hubungan mereka sebelumnya dekat, mirip seperti hubungan kakak-adik. Seusai ZAAQ pindah ke Bandung, mereka masih tetap berkomunikasi hingga akhirnya hubungan itu terputus.

Penangkapan Pelaku di Wilayah Garut

Setelah penyelidikan intensif, kedua pelaku berhasil ditangkap di Kabupaten Garut. Proses penangkapan berlangsung pada malam hari di Desa Banyuresmi, dan keduanya diketahui mencoba untuk melarikan diri.

Polisi melaporkan bahwa mereka sebelumnya sempat bersembunyi di Tasikmalaya, namun kembali ke Garut. Penemuan jasad ZAAQ berlangsung setelah polisi menerima laporan kehilangan pada awal bulan Februari.

Penangkapan ini terjadi setelah petunjuk-petunjuk dan hasil interogasi mengarah pada keterlibatan kedua remaja tersebut dalam perbuatan yang sangat kejam ini. Polisi masih terus menggali informasi lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai motif di balik tindakan mereka.

Kronologi Kejadian dan Penemuan Jasad

Menurut keterangan resmi, pembunuhan terjadi pada 9 Februari. Pelaku sengaja mendatangi korban dengan niat jahat di Bandung saat mereka yakin tidak ada intervensi dari orang lain.

Setelah beberapa hari hilang, jasad korban ditemukan oleh seorang saksi yang saat itu sedang melakukan siaran langsung di media sosial. Kejadian ini menambah rapi daftar kriminal yang melibatkan anak-anak di bawah umur.

Investigasi menunjukkan bahwa pelaku telah merencanakan aksi tersebut dan tindakan mereka merupakan hasil dari dendam pribadi yang sudah terakumulasi. Kesedihan atas hilangnya seorang pelajar muda ini menjadi refleksi betapa pentingnya komunikasi dan pengendalian emosi dalam hubungan antarpersonal.

Tuduhan Rekayasa Penculikan

Seiring dengan investigasi yang berjalan, kepolisian mengungkap adanya penyebaran informasi yang menyesatkan terkait penculikan. Ponsel korban diketahui sempat dikuasai oleh pelaku dan digunakan untuk menyebarkan berita palsu tentang penculikan.

Pihak kepolisian menekankan bahwa informasi yang beredar mengenai penculikan itu hanyalah rekayasa belaka yang dibuat oleh para pelaku untuk menutupi kejahatan mereka. Hal ini menunjukkan kompleksitas situasi dan betapa berharganya kebenaran dalam proses penyelidikan.

Melihat bagaimana tindakan yang tidak bertanggung jawab dapat mengundang malapetaka, masyarakat diharapkan semakin waspada terhadap hubungan yang bisa mengarah pada konflik atau kekerasan. Keduanya kini masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan semua detail mengenai kejadian yang tragis ini.

Iklan