Gempa bumi berkekuatan M7,8 yang mengguncang Mindanao, Filipina pada Senin, 8 Juni 2023, menarik perhatian banyak pihak terkait potensi dampak yang mungkin ditimbulkan. Pertanyaan utama yang muncul adalah apakah gempa besar ini dapat memicu gempa di zona megathrust atau sesar-sesar lainnya yang berada di sekitarnya.
Daryono, seorang anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, menyatakan bahwa saat ini belum terlihat adanya tanda-tanda dampak dari gempa di Mindanao tersebut. Menurutnya, kemampuan sebuah gempa untuk memicu gempa lain sangat bergantung pada kondisi tektonik di wilayah tersebut.
“Jika terdapat sumber gempa lain yang dekat dengan gempa M7,8 dan telah mengalami akumulasi medan tegangan maksimum, maka bisa saja terjadi pemicu,” jelasnya. Namun, jika akumulasi tegangan belum tercapai, peluang terjadinya pemicu sangat kecil.
Pakar dalam bidang gempa bumi, Daryono, selanjutnya menjelaskan dua mekanisme picuan yang dikenal dalam ilmu kebumian. Pertama adalah picuan statik, yang terjadi karena terdapat perubahan tekanan pada permukaan bumi, sedangkan yang kedua adalah picuan dinamik, di mana guncangan gempa dapat meneruskan energi ke sesar lain yang mungkin aktif.
Potensi Gempa Akibat Pemindahan Tegangan Dinamik
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami mengonfirmasi bahwa skenario pemicu antar-zona memang memungkinkan terjadi, meskipun tingkat ketepatan prediksinya masih sangat rendah. “Mungkin saja terjadi pemicu aktivitas di zona megathrust di sekitarnya, tetapi sulit untuk memprediksi kapan dan di mana zona yang akan aktif,” ungkapnya.
Dalam konteks ini, peristiwa gempa Aceh 2004 menjadi salah satu contoh empiris. Gempa berkekuatan M9,3 yang terjadi di Aceh diduga telah memicu gempa besar lainnya di Nias dengan magnitudo M8,7, tak lama setelah itu. Situasi ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan transfer tegangan yang terjadi akibat gempa besar di wilayah sekitarnya.
Menurut Lembaga Survei Geologi, fenomena pemindahan tegangan dinamik ini telah tercatat dalam beberapa kejadian sejarah gempa bumi. Beberapa contoh yang disebutkan adalah gempa M7,3 di Landers pada tahun 1992 dan gempa M9,1 di Sumatra 2004, yang memicu serangkaian gempa susulan dari ujung utara Sumatra hingga selatan Myanmar.
Namun, ada batasan dalam klasifikasi gempa yang terpicu. Jika gempa yang terjadi berada dalam jarak 2-3 kali panjang patahan dari pusat gempa awal, maka gempa itu dikategorikan sebagai gempa susulan dan bukan peristiwa terpicu. Panjang patahan untuk gempa M7 biasanya berkisar antara 40 hingga 60 kilometer.
Pemahaman Ilmiah Tentang Gempa Dan Potensinya
Secara umum, gempa yang dianggap efektif memicu gempa lain biasanya memiliki magnitudo yang sangat besar, di atas M9, dengan kedalaman yang dangkal. “Walaupun mungkin ada kemungkinan dengan gempa yang lebih kecil, namun peluangnya jauh lebih kecil,” tambahnya.
Dalam kajian lebih dalam mengenai pemindahan tegangan dinamik, banyak ilmuwan mengamati bagaimana suatu gempa dapat meredakan atau menambah tekanan di zona gempa lainnya. Ini terutama terlihat pada gempa-gempa besar yang terjadi di sepanjang jalur patahan aktif.
Selama bertahun-tahun, banyak penelitian telah dilakukan untuk memahami lebih baik interaksi antara satu gempa dengan lainnya. Para ilmuwan terus berusaha mencari pola-pola tertentu yang dapat memberikan wawasan lebih sebelum dan sesudah terjadinya gempa.
Manajemen Risiko Dan Kesadaran Publik Terhadap Gempa
Ketika membahas gempa bumi, kesadaran masyarakat akan risiko dan langkah-langkah yang diambil untuk memitigasi dampak menjadi sangat penting. Pendidikan mengenai gempa bumi dan perilaku yang harus dilakukan saat gempa terjadi bisa menyelamatkan nyawa.
Pemerintah dan organisasi bencana juga diharapkan untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada publik mengenai langkah-langkah yang harus diambil. Pemeriksaan terhadap infrastuktur dan kesiapan menghadapi bencana menjadi aspek yang tidak bisa diabaikan.
Selama ini, fokus pembuatan bangunan tahan gempa terus meningkat. Dengan perkembangan teknologi, diharapkan bangunan-bangunan yang dibangun tidak hanya memenuhi standar keselamatan, tetapi juga mampu merespons guncangan dengan baik.
Dengan kesadaran dan pengetahuan yang baik mengenai gempa bumi, diharapkan masyarakat dapat lebih siap dan tenang dalam menghadapi potensi bencana tersebut. Penyuluhan dan simulasi menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi situasi darurat terkait gempa bumi.



