Direktur Utama perusahaan telekomunikasi terkemuka menyatakan bahwa anak usaha mereka, yang baru dibentuk, akan mengeksplorasi peluang kemitraan strategis alih-alih melaksanakan penawaran umum perdana (IPO). Keputusan ini dianggap lebih efektif untuk mendorong pertumbuhan entitas baru tersebut, mengingat kondisi pasar dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
“Kami percaya bahwa mengundang mitra strategis yang memiliki pengalaman dan keahlian dalam industri serat optik sangat penting untuk membawa Infranexia ke tingkat yang lebih tinggi, setara dengan Telkomsel yang saat ini merupakan penyumbang utama bagi seluruh grup,” ungkap sang direktur dalam wawancaranya baru-baru ini.
InfraNexia adalah perusahaan yang dibentuk untuk mengelola infrastruktur telekomunikasi, terutama dalam penyediaan jaringan serat optik. Penghimpunan aset ini diharapkan dapat memberikan distribusi internet yang lebih merata, sehingga konektivitas digital di seluruh nusantara dapat meningkat efisiensinya.
Strategi Kemitraan untuk Meningkatkan Pertumbuhan Infranexia
Direktur tersebut menegaskan bahwa kolaborasi dengan mitra strategis bukan hanya berkaitan dengan sumber investasi finansial, tetapi juga tentang menghadirkan teknologi dan mekanisme tata kelola yang dapat mempercepat perkembangan InfraNexia.
Dengan menyoroti pentingnya kapasitas konektivitas yang handal, ia menggambarkan potensi pertumbuhan yang signifikan seiring dengan meningkatnya kebutuhan bandwidth akibat kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan dan komputasi tepi.
“Permintaan akan kapasitas bukan hanya bergantung pada jumlah yang tersedia, tetapi juga pada keamanan, performa, dan keandalan jaringan,” ujarnya, menekankan bahwa Telkom memiliki keunggulan dalam menyediakan semua aspek tersebut.
Peningkatan Permintaan untuk Data Center dan Solusi Energi
Sebagai tambahan, bisnis data center di bawah pengelolaan Telkom juga menunjukkan peningkatan permintaan yang luar biasa. Permintaan ini, yang diperkirakan akan meningkat dalam lima tahun mendatang, sudah melampaui harapan sebelumnya, terutama didorong oleh kebutuhan akan penyimpanan dan pengolahan data yang besar.
“Permintaan yang sekarang jauh melebihi apa yang kami rencanakan beberapa waktu lalu, khususnya dikarenakan kemajuan dalam kecerdasan buatan,” klarifikasi Dian.
Untuk itu, Telkom berusaha menjalin kemitraan dengan pemain global dalam sektor data center, bertujuan untuk menggaet teknologi serta pengguna yang besar, seperti penyedia layanan cloud.
Tantangan Energi dalam Operasional Data Center
Meskipun bisnis data center penuh potensi, tantangan dalam hal investasi besar dan periode pengembalian yang panjang tetap ada. Perusahaan juga menghadapi kebutuhan energi yang sangat tinggi untuk menjaga operasional data center agar tetap berjalan tanpa henti.
Dian mengingatkan tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, menyatakan bahwa pihaknya tengah berupaya menggunakan sumber energi terbarukan untuk meringankan dampak negatif dari konsumsi energi yang tinggi.
Kombinasi investasi yang cerdas dan kepedulian terhadap lingkungan diharapkan dapat membawa solusi yang lebih berkelanjutan dalam pengelolaan data center.
Transformasi Menuju Model Strategic Holding yang Efisien
Dalam upaya meningkatkan efisiensi, Telkom melakukan transformasi menjadi model holding strategis, dimana peran holding akan dipisahkan secara lebih jelas dengan anak-anak usahanya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah yang lebih optimal dari setiap unit bisnis.
“Setelah melakukan pergeseran ini, holding akan fokus pada fungsi strategis tanpa terlibat langsung dalam operasi bisnis sehari-hari,” jelas Dian.
Di bawah struktur baru ini, holding akan mengawasi dan memastikan setiap anak perusahaan menghasilkan kinerja yang baik melalui indikator kinerja utama yang terukur, sehingga mengurangi risiko dan meningkatkan peluang kesuksesan.
Dian memberikan contoh mengenai pembagian peran pada berbagai anak usaha Telkom, yang masing-masing memiliki fokus dan tujuan yang berbeda, namun saling melengkapi untuk mencapai misi perusahaan secara keseluruhan.
Dengan cara ini, diharapkan para investor dapat melihat nilai dari keseluruhan grup, bukan hanya dari kinerja unit yang berorientasi pada konsumen saja. Model ini juga akan memberikan ruang untuk setiap anak usaha berkembang sesuai potensi mereka masing-masing.



