Di tengah musim kemarau yang melanda wilayah Jawa Timur, hujan lebat mengguyur Surabaya selama dua hari berturut-turut, yakni pada 22 dan 23 Juni. Akibatnya, berbagai titik di Kota Pahlawan mengalami banjir yang cukup parah, membuat berbagai aktivitas masyarakat terganggu dan sejumlah infrastruktur terkena dampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda menjelaskan penyebab di balik fenomena ini.

Prakirawan BMKG Juanda, Bhilda Maulida, menyatakan bahwa meskipun sedang berada di musim kemarau, masih ada kemungkinan terjadinya hujan. Suhu air laut di sekitar Selat Madura yang lebih hangat menjadi faktor utama terjadinya hujan lebat, memicu kelembapan atmosfer yang tinggi dan menyebabkan curah hujan yang signifikan.

“Hujan lebat di Surabaya pagi ini disebabkan oleh suhu muka air laut yang hangat, yang turut berkontribusi pada kelembapan atmosfer,” ujar Bhilda ketika dihubungi. Dengan kondisi seperti ini, fenomena hujan lebat menjadi lebih mungkin terjadi, meskipun berada di musim yang seharusnya kering.

Penyebab Hujan Lebat di Surabaya dan Dampaknya

Selain suhu air laut, pola pergerakan angin di area Surabaya juga memiliki peran penting dalam terjadinya hujan. BMKG menghimbau bahwa pola konvergensi atau pertemuan arah angin dari berbagai penjuru dapat mempercepat pembentukan awan hujan. Adanya perlambatan kecepatan angin juga menjadi faktor pendorong munculnya hujan lebat.

“Ada pola konvergensi arah angin dalam skala lokal yang berlarut-larut, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan,” tambahnya. Kombinasi antara suhu hangat dan pola pergerakan angin ini membuat hujan lebat lebih mungkin terjadi di wilayah Surabaya meskipun musim kemarau masih berlangsung.

BMKG Juanda memprediksi bahwa curah hujan di Surabaya kemungkinan akan berlanjut beberapa hari ke depan, meskipun dengan intensitas yang menurun. Hal ini menjadi perhatian bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan banjir.

Konsekuensi Banjir di Berbagai Titik di Surabaya

Banjir pertama kali melanda Surabaya pada subuh 22 Juni, merendam 17 titik dengan ketinggian genangan mencapai 50 sentimeter, terutama di kawasan Stikosa AWS dan Nginden. Penanganan banjir sempat terhambat oleh tingginya pasang air laut yang menghalangi proses pemompaan air keluar dari area yang terendam.

Hujan kembali turun pada dini hari Selasa, mengakibatkan 16 titik terendam, dengan ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 60 sentimeter. Jalan Simo Kalangan di Sukomanunggal menjadi salah satu titik terparah, dengan genangan merata di sepuluh kecamatan, termasuk area sekitar fasilitas kesehatan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, melaporkan bahwa dari 16 lokasi genangan yang didata, 12 lokasi telah surut. Namun, masih ada 4 lokasi yang belum surut, termasuk Jalan Nginden Intan Timur dan Jalan Taman Panjang Jiwo Permai.

Cuaca Ekstrem dan Kerusakan yang Ditimbulkan

Cuaca ekstrem yang melanda Surabaya juga menyebabkan tumbangnya empat pohon di beberapa lokasi, seperti Jalan Diponegoro dan Jalan T.A.I.S. Nasution. Berbagai jenis pohon yang tumbang, seperti tabebuia dan trembesi, berukuran bervariasi dan telah ditangani oleh petugas dari BPBD dan Dinas Lingkungan Hidup.

Satu unit rumah di Jalan Kalijudan mengalami kerusakan parah pada bagian atap akibat cuaca buruk. Namun, beruntung, tidak ada korban jiwa dari insiden tersebut, hanya satu keluarga yang terdampak dengan lima jiwa.

Atap yang ambruk tersebut menimpa kamar tidur dan ruang tamu. Petugas segera mengamankan area yang terkena dampak dan memberikan bantuan kepada penghuni yang terdampak, mengingat cuaca yang tidak menentu masih berpotensi menyebabkan kejadian serupa di masa mendatang.

Harapan untuk Masa Depan dan Persiapan Masyarakat

Melihat situasi ini, penting bagi masyarakat Surabaya untuk lebih siap menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem di masa mendatang. Masyarakat diajak untuk memperhatikan ramalan cuaca dan mempersiapkan langkah-langkah antisipatif, termasuk penyimpanan barang-barang berharga di tempat yang aman dari kemungkinan banjir.

BPBD Surabaya juga terus memberikan sosialisasi dan informasi kepada publik tentang cara menghadapi banjir dan cuaca buruk. Pengetahuan yang baik akan membantu masyarakat untuk lebih siap dan mengurangi dampak yang diakibatkan oleh cuaca ekstrem.

Namun, di sisi lain, dengan terus meningkatnya cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, tantangan bagi masyarakat Surabaya dan Jawa Timur secara keseluruhan tetap ada. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk menanggulangi risiko banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut.

Iklan