New Orleans kini menjadi kota pertama di Amerika Serikat yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola panggilan darurat 911. Langkah inovatif ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi respon terhadap situasi darurat, terutama mengingat jumlah panggilan yang diterima setiap harinya.

Sejak akhir Juli, Dinas Komunikasi Distrik Orleans (OPCD) telah menerapkan sistem yang akan mengalihkan panggilan ke agen AI. Sistem ini dirancang untuk memprioritaskan dan menganalisis panggilan, memisahkan mana yang memerlukan perhatian manusia dan mana yang dapat ditangani otomatis.

Dengan lebih dari seribu panggilan yang masuk setiap hari, New Orleans menghadapi tantangan besar. Keputusan untuk menggunakan AI diambil demi mengurangi beban kerja petugas operator dan meningkatkan kecepatan respon terhadap keadaan darurat yang lebih kritis.

Implementasi Kecerdasan Buatan dalam Pengelolaan Panggilan Darurat

Sistem yang diberi nama AI Emergency Call Triage ini diperkenalkan sebagai bagian dari inisiatif untuk menghadapi meningkatnya volume panggilan. Sebelumnya, teknologi ini telah diuji dalam layanan hotline non-darurat, sebelum diterapkan secara resmi untuk panggilan darurat.

AI akan melakukan triase pada panggilan yang masuk, sehingga dapat menentukan prioritas penanganan. Dalam keadaan tertentu, seperti lokasi kejadian yang dekat dan semua petugas sibuk, sistem AI ini akan aktif untuk memberikan respon awal.

Pihak OPCD pun menegaskan bahwa kehadiran AI tidak untuk menggantikan operator manusia, melainkan untuk mendukung mereka. Hal ini penting agar manusia tetap terlibat dalam proses penanganan, terutama untuk situasi yang kompleks dan membutuhkan pertimbangan emosional.

Resistensi Penyuluhan terhadap Penggunaan AI

Meski mendapatkan dukungan dari beberapa pihak, pemanfaatan AI dalam sistem 911 juga menghadapi kritik tajam. Praktisi dan akademisi khawatir bahwa penggunaan teknologi ini dapat mengakibatkan konsekuensi serius jika tidak dikelola dengan baik.

Seorang mantan operator 911 mengungkapkan bahwa dalam situasi tertentu, seseorang mungkin mengalami kesulitan untuk menjelaskan keadaannya. Kemampuan manusia untuk merasakan emosi dan membaca situasi sangat penting dalam situasi darurat.

Banyak yang berpendapat bahwa kehadiran AI dalam penanganan panggilan darurat dapat berisiko, terutama ketika aspek emosional menjadi faktor penentu. Keraguan ini membawa kembali kepercayaan pada interaksi manusia dalam proses pentahapan keadaan darurat.

Perbandingan dengan Kota Lain yang Menggunakan Teknologi Serupa

New Orleans bukan satu-satunya kota yang mencoba mengintegrasikan AI ke dalam sistem darurat. Kota lainnya seperti Atlanta dan Seattle juga telah menjajaki penggunaan teknologi serupa tetapi dengan pendekatan yang berbeda.

Atlanta menggunakan AI untuk mempercepat identifikasi lokasi penelepon serta membantu komunikasi lintas bahasa. Hal ini bertujuan untuk mempermudah operator dalam memberikan respon yang cepat dan tepat waktu.

Di Seattle, teknologi AI telah digunakan lebih dari dua tahun tanpa pengumuman publik. Sistem tersebut membantu petugas dalam menentukan panggilan yang memerlukan respon cepat dibandingkan yang tidak mendesak.

Risiko dan Tantangan dalam Penggunaan AI untuk Panggilan Darurat

Meski ada potensi manfaat yang besar, penggunaan AI dalam konteks panggilan darurat juga tidak lepas dari risiko. Peneliti keamanan mengkhawatirkan kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi, terutama mengingat tingginya tingkat kepanikan yang dialami oleh penelepon.

Risiko kesalahpahaman dapat mengarah pada keputusan yang salah, dan ini menjadi perhatian utama. Dalam situasi darurat, kejelasan komunikasi sangat penting, dan kemampuan manusia untuk melakukan interpretasi terhadap nuansa dan emosi tidak dapat digantikan oleh mesin.

Serangan siber juga menjadi ancaman, karena sistem AI rentan diserang dan diretas. Masyarakat harus waspada terhadap kemungkinan bahwa data panggilan dapat disalahgunakan jika tidak dilindungi dengan baik.

Para pejabat di New Orleans optimis bahwa dengan kombinasi pengawasan manusia dan pengaturan yang ketat, implementasi AI dalam sistem panggilan darurat dapat berfungsi secara efektif. Namun, keseimbangan tetap diperlukan antara inovasi teknologi dan peran penting manusia dalam menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat.

Iklan