Di Surabaya, mahasiswa dan civitas akademika Universitas Airlangga menggelar aksi simbolik sebagai penghormatan kepada lima calon manajer Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih yang meninggal dunia saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran. Aksi ini menunjukkan solidaritas dan duka yang mendalam terhadap tragedi yang menimpa rekan-rekan mereka.
Kelima korban termasuk alumni dan mahasiswa Unair, di antaranya adalah Anisa Muyassaroh. Kegiatan penghormatan ini terlihat menyentuh dan menggambarkan rasa kehilangan yang dirasakan oleh seluruh civitas akademika.
Pada acara tersebut, penyalaan lilin dan penaburan bunga dilakukan di depan diorama foto kelima korban. Seluruh peserta turut berdoa dan membacakan puisi sebagai bentuk penghormatan terakhir untuk mendiang.
Aksi Simbolik dan Penghormatan Lasting di Unair
Di Amphitheater Unair B, mahasiswa berkumpul untuk menyampaikan pesan duka mereka. Mereka menaburkan bunga dan meneriakkan ungkapan kebersamaan dalam kesedihan, menandakan betapa mendalamnya dampak dari peristiwa ini.
Salah satu peserta menyatakan, “Swargi langgeng, swargi langgeng,” sebagai harapan agar roh mereka mendapatkan tempat yang layak di sisi Tuhan. Aksi ini bukan sekadar penghormatan, tetapi juga sebuah panggilan untuk keadilan.
Shintya Iftitah, wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Unair, menjelaskan bahwa aksi ini merupakan cerminan keresahan mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah satu kesatuan yang saling mendukung dalam menghadapi tragedi ini.
Empat Tuntutan Penting dari Mahasiswa Unair
Selama aksi, mahasiswa menyampaikan empat tuntutan utama kepada pemerintah. Pertama, mereka meminta transparansi mengenai kronologi dan penyebab kematian kelima korban selama pelatihan tersebut.
Kedua, mahasiswa mendesak investigasi independen di luar institusi penyelenggara Latihan Dasar Kemiliteran. Keberadaan investigasi independen dianggap penting untuk mendapatkan gambaran objektif mengenai peristiwa yang terjadi.
Ketiga, mereka menuntut pertanggungjawaban dari pemerintah terkait kejadian tersebut. Ada harapan agar pemerintah mengambil tindakan tegas untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Pendidikan Bela Negara Setelah Tragedi
Setelah insiden tersebut, Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa durasi pelatihan akan dipangkas. Program pendidikan dikubah menjadi pelatihan bela negara yang lebih menekankan pada pendidikan moral dan disiplin.
Wakil Menteri Pertahanan menjelaskan bahwa pelatihan tidak akan mencakup materi terkait taktik militer atau penggunaan senjata. Hal ini merupakan langkah awal untuk mengevaluasi pelaksanaan program yang dijalankan sebelumnya.
Partisipasi mahasiswa dalam program kini lebih diorientasikan pada pengembangan karakter dan rasa nasionalisme. Tujuannya adalah membangun generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas tinggi.
Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan
Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Unair merupakan salah satu bentuk penegasan tentang kesejahteraan dan keselamatan di lingkungan pendidikan. Ini menunjukkan bahwa mereka peka terhadap keadaan sekitarnya dan berani bersuara.
Dalam prosesnya, penting untuk menjadikan evaluasi program sebagai refleksi untuk perbaikan ke depannya. Mahasiswa berharap akan ada perubahan signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan yang melibatkan unsur militer.
Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua, dan semoga kerjasama antara civitas akademika dan pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi pendidikan. Harapan ini tidak hanya untuk generasi saat ini, tetapi juga bagi generasi mendatang yang akan mengambil peran penting dalam pembangunan bangsa.



