Seorang perwira di TNI AL, Mayor Laut (P) Faisal Mulia, telah dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun akibat terlibat dalam jaring narkotika. Pengadilan Militer Tinggi 1 Medan memutuskan hukuman tersebut setelah menyatakan bahwa ia terbukti bersalah mengedarkan narkoba jenis sabu dengan menggunakan pesawat militer.
Putuasan tersebut dibacakan oleh ketua majelis hakim Kolonel Sarifudin Tarigan pada hari Kamis, 20 Agustus. Dalam amar putusannya, hakim mengungkapkan bahwa tindakan Faisal melanggar hukum serta mencoreng nama baik institusi TNI.
Faisal dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 114 ayat (1) dan Pasal 127 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 2009 tentang Narkotika, serta Pasal 26 KUHPM. Penjatuhan hukuman ini menunjukkan komitmen pengadilan terhadap pemberantasan narkotika, termasuk di kalangan aparat negara.
Jalur Kejadian dan Operasi yang Melibatkan Narkoba
Keberadaan Faisal dalam jaringan narkotika terungkap ketika dia terlibat dalam transaksi sabu di Batam. Pada 22 November 2025, Faisal pergi ke Batam bersama istrinya untuk mendapatkan sabu seberat 8 gram dari seorang pengedar bernama Kapak.
Keberanian Faisal dalam menggunakan fasilitas militer untuk melakukan transaksi ilegal ini menjadi salah satu alasan beratnya hukuman yang dijatuhkan kepadanya. Dalam menyusun rencana, Faisal bahkan melibatkan anggota keluarganya, yang menambah kompleksitas kasus ini.
Setelah mendapatkan barang haram tersebut, Faisal dan istrinya menggunakan sabu di dalam kamar hotel. Tindakan ini jelas sangat berisiko dan menunjukkan pengabaian total terhadap tugas dan tanggung jawab seorang perwira TNI.
Pembagian Peran dalam Transaksi Penyalahgunaan Narkoba
Selama beroperasi, Faisal melibatkan istrinya dalam mencari konsumen untuk sabu yang akan dikirim ke Madiun, Jawa Timur. Dia mengemas sabu menjadi 14 paket, menciptakan sistem pengiriman yang rumit dan berbahaya.
Faisal juga diketahui menyimpan sabu dalam berbagai tempat yang sulit terdeteksi, seperti dalam kotak rokok dan lemari di rumahnya. Ini menunjukkan upaya sistematis untuk menyembunyikan aktivitas ilegal yang dilakukannya dari pihak berwajib.
Pada akhirnya, semua upaya Faisal gagal saat dia tertangkap basah oleh pihak berwenang saat berusaha mengirimkan sabu menggunakan pesawat. Penangkapan ini menjadi momen krusial bagi penegakan hukum narkotika di negara ini.
Dampak Sosial dan Hukum dari Tindakan Faisal
Tindakan Faisal tidak hanya berdampak pada dirinya secara hukum, tetapi juga menciptakan preseden berbahaya bagi institusi militer. Sebagai seorang perwira, dia seharusnya menjadi panutan, tetapi sebaliknya, ia justru mempermalukan lembaga yang diwakilinya.
Pengadilan menilai bahwa Faisal tidak menunjukkan sikap penyesalan dan bahkan telah menggunakan kemampuan dan sumber daya militer untuk mendukung kegiatan ilegalnya. Hal ini semakin memperburuk citranya dan menciptakan ketidakpercayaan di tubuh TNI.
Kejadian ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan dan kontrol terhadap personel militer yang terlibat dalam kegiatan kriminal. Penegakan hukum yang keras bagi Faisal bisa menjadi sinyal baik untuk mencegah tindakan serupa di masa depan.



