Hilal, atau anak bulan yang menandakan awal bulan dalam kalender Islam, belum terlihat di Surabaya. Hal ini diterangkan setelah dilakukan pemantauan atau rukyatul hilal oleh Fakultas Syariah dan Hukum Islam Universitas Islam Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya pada Selasa, 17 Februari.

Pantauan ini melibatkan dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Falak yang turut serta dalam kajian mendalam mengenai data hisab. Upaya ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang posisi bulan Qomariah yang berhubungan dengan penentuan waktu puasa dan hari raya.

Menurut Ketua Program Studi Ilmu Falak Uinsa, Siti Tatmainul Qulub, hilal Ramadhan tidak terlihat karena posisinya masih berada di bawah ufuk. Pemantauan ini bukan sekadar merujuk pada perhitungan matematis, tetapi juga sebagai tindakan verifikasi faktual atas ketentuan syar’i.

Pentingnya Proses Rukyatul Hilal dalam Penentuan Awal Bulan

Proses rukyatul hilal memiliki makna yang dalam dalam penentuan awal bulan. Bagi umat Islam, penentuan awal bulan memiliki implikasi langsung terhadap kewajiban berpuasa dan perayaan hari besar. Dalam konteks Surabaya, pemantauan dilakukan di lokasi tertentu untuk mencapai hasil yang akurat.

Berdasarkan kriteria MABIMS yang disepakati oleh negara-negara di Asia Tenggara, sebuah hilal dikatakan memenuhi syarat jika memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Kriteria ini menjadi acuan utama dalam menentukan terlihat tidaknya hilal.

Namun, Siti melaporkan bahwa situasi di Surabaya menunjukkan angka yang jauh di bawah kriteria MABIMS. Hal ini mengindikasikan bahwa potensi untuk melihat hilal di wilayah tersebut sangat kecil, bahkan dianggap nihil.

Tantangan dalam Proses Observasi Hilal di Surabaya

Selama proses pengamatan hilal, Tim Uinsa menyiapkan berbagai perangkat untuk mendukung pekerjaan ini. Perangkat tersebut meliputi teleskop robotik, teleskop manual, teodolit, dan binokuler, yang semuanya mempermudah dalam melihat posisi bulan. Kendati ada perhitungan matematis, kehadiran peralatan modern ini sangat krusial dalam menentukan keberadaan hilal.

Siti menjelaskan bahwa berdasarkan pengamatan, tinggi hilal mencapai -1 derajat 16 menit, jauh dari kriteria yang berlaku. Dengan elongasi yang hanya 1 derajat 13 menit, hilal dipastikan sulit terlihat saat matahari mulai terbenam.

Situasi ini diperparah oleh faktor cuaca, mengingat Surabaya saat ini memasuki musim hujan. Langit yang mendung menambah tingkat kesulitan dalam melakukan pemantauan, sehingga membuat proses ini semakin menantang.

Tindak Lanjut Jika Hilal Tetap Tidak Terlihat

Jika hilal tetap tidak terlihat hingga akhir pemantauan, maka bulan Syakban akan digenapkan menjadi 30 hari, sebuah praktik yang dikenal dengan istilah istikmal. Ini berarti bahwa awal Ramadan kemungkinan akan jatuh pada hari Kamis, 19 Februari. Namun, penetapan tersebut harus menunggu hasil sidang isbat yang melibatkan pelaporan rukyat dari berbagai lokasi di seluruh Indonesia.

Siti menekankan bahwa meskipun hasil pengamatan tidak menunjukkan keberadaan hilal, prosedur rukyat tetap harus dilaksanakan. Proses ini tidak hanya berlandaskan pada perhitungan, tetapi juga pada verifikasi secara nyata di lapangan.

Penting untuk dicatat bahwa sidang isbat yang akan dilakukan menjadi acuan akhir dalam menentukan awal bulan, sehingga segala laporan dari tim pengamat akan sangat berpengaruh pada keputusan tersebut.

Iklan