India baru-baru ini memamerkan permata suci kuno yang berkaitan dengan Buddha setelah lebih dari seratus tahun benda-benda tersebut dicuri pada masa kolonial. Ini menjadi momen bersejarah bagi negara tersebut, mengingat betapa pentingnya warisan ini bagi komunitas Buddha dan bangsa India secara keseluruhan.
Permata tersebut dikenal sebagai Permata Piprahwa, yang terdiri dari lebih dari 300 batu dan perhiasan berharga. Ditemukan di situs stupa di wilayah utara India, benda-benda ini telah menjadi bagian penting dari sejarah budaya India dan agama Buddha.
Pameran ini diadakan di New Delhi dan menjadi kesempatan langka untuk menyaksikan kembali keindahan dan nilai spiritual dari permata suci ini. Selain itu, kedatangan permata Piprahwa menjadi simbol pemulangan harta budaya yang hilang akibat penjajahan.
Pentingnya Permata Piprahwa dalam Sejarah Buddha
Pemulangan Permata Piprahwa merupakan langkah penting dalam memperkuat kembali hubungan spiritual antara masyarakat Buddha dan budaya India. Permata ini diyakini memiliki asal-usul yang dalam, dating sekitar tahun 200 SM. Hal ini menunjukkan betapa jauh dan kaya warisan Buddha di wilayah tersebut.
Salah satu alasan mengapa permata ini begitu berharga adalah penemuan wadah berisi fragmen tulang yang diyakini sebagai relik Sang Buddha. Penemuan ini mengungkapkan bahwa permata tersebut bukan hanya sekadar perhiasan, tetapi juga mengandung nilai religius yang mendalam bagi umat Buddha.
Kementerian Kebudayaan India menyatakan bahwa pemulangan permata ini menandai bersatunya kembali relik Buddha setelah 127 tahun. Hal ini adalah bukti komitmen untuk melestarikan warisan budaya yang tidak hanya milik India, tetapi juga milik umat Buddha di seluruh dunia.
Sejarah Penemuan Permata Piprahwa
Permata Piprahwa ditemukan pada tahun 1898 oleh insinyur kolonial Inggris bernama William Claxton Peppe. Penemuan ini terjadi di Piprahwa, negara bagian Uttar Pradesh, yang merupakan lokasi penting bagi sejarah Buddha. Kegiatan penggalian pada saat itu dilakukan tanpa memperhatikan nilai budaya dari artefak yang ditemukan.
Banyak dari artefak yang ditemukan pada waktu itu diserahkan kepada otoritas kolonial dan kini berada di Museum India di Kolkata. Meski begitu, sejumlah permata tetap dipegang oleh keluarganya selama lebih dari satu abad, menunjukkan betapa kompleksnya sejarah pemilikan benda-benda ini.
Pada tahun 2025, cicit Peppe menawarkan permata ini untuk dilelang di Sotheby’s Hong Kong. Namun, tawaran tersebut batal setelah pemerintah India mengklaim bahwa permata ini adalah warisan budaya yang tidak terpisahkan dari India dan komunitas Buddha.
Respon Masyarakat Terhadap Pameran Permata
Pameran Permata Piprahwa telah mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dan peneliti. Banyak yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengenal kembali warisan budaya yang telah lama hilang. Selain itu, hal ini juga menciptakan kesadaran baru akan pentingnya pelestarian artefak bersejarah.
Perdana Menteri India, Narendra Modi, menyebut pameran ini sebagai hari yang sangat istimewa bagi masyarakat yang mencintai sejarah dan ajaran Buddha. Ia berharap acara ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih menghargai warisan budaya mereka.
Secara keseluruhan, peristiwa ini menunjukkan bahwa pemulangan dan pameran harta budaya bukan hanya tentang artefak itu sendiri, tetapi juga tentang makna yang terkandung di dalamnya. Ini memperkuat identitas budaya dan spiritual masyarakat, yang sering kali terpinggirkan oleh peristiwa sejarah.



