Kematian Alfarisi bin Rikosen (21), seorang tahanan yang meninggal di Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, pada 30 Desember 2025, meninggalkan banyak pertanyaan bagi keluarganya. Dikenal sebagai demonstran yang ditangkap selama aksi protes di Surabaya, kematiannya diduga terkait dengan penganiayaan selama penahanan.
Kepala Biro Kampanye Hak Asasi Manusia, Zaldi Maulana, menyatakan bahwa pihak keluarga menemukan sejumlah luka mencurigakan pada jenazah Alfarisi saat proses pemandian. Hal ini membuat mereka merasa perlu mencari keadilan untuk penyebab kematian yang tidak wajar bagi seorang pemuda yang seharusnya memiliki masa depan cerah.
Alfarisi, seorang yatim piatu dari Sampang, Madura, tinggal bersama kakak kandungnya dan bersama-sama menjelani hidup dari warung kopi kecil yang mereka kelola. Penangkapannya yang terjadi pada 9 September 2024 membawa banyak perubahan mendalam dalam hidupnya dan keluarganya.
Dasar Penangkapan dan Kondisi di Tahanan
Penangkapan Alfarisi terjadi di kediamannya di Sampang, di mana ia dituduh melanggar Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 terkait kepemilikan benda yang diduga bom molotov. Sejak penangkapannya, Alfarisi mengalami serangkaian peristiwa yang penuh kekerasan di dalam tahanan.
Sebelum meninggal, Alfarisi mengaku kepada keluarga bahwa ia telah mengalami kekerasan selama proses penahanan di Polrestabes Surabaya. Dia dilaporkan dipukul dan ditendang, sehingga mengakibatkan sesak napas dan gejala strok yang sangat mengkhawatirkan bagi keluarganya.
Informasi dari tahanan lain menunjukkan bahwa Alfarisi mengalami perubahan fisik yang drastis, termasuk penurunan berat badan yang signifikan dan kesulitan berbicara. Hal ini menambah keraguan keluarga tentang perawatan medis yang diterima Alfarisi selama berada dalam tahanan.
Tindakan Pihak Rutan dan Komunikasi dengan Keluarga
Kondisi kesehatan Alfarisi semakin memburuk tanpa adanya perhatian medis yang memadai dari pengelola rutan. Saat keluarga mencoba mencari kejelasan tentang kematiannya, mereka menghadapi beberapa kendala, termasuk tekanan untuk menandatangani dokumen pengalihan tanggung jawab.
Pihak rutan juga dikritik karena tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai kondisi Alfarisi. Keluarga merasa terasing dalam situasi yang sedang dihadapi, dan pengalaman tersebut menambah rasa sakit yang mereka alami.
Dalam proses penanganan, pihak rutan mengklaim bahwa Alfarisi memiliki riwayat kesehatan yang dapat menjelaskan keadaannya. Namun, keluarga dengan tegas membantah pernyataan tersebut, menginginkan adanya kejelasan lebih lanjut mengenai fakta di balik kematiannya.
Harapan untuk Penyelidikan yang Adil dan Transparan
Keluarga Alfarisi menuntut adanya penyelidikan independen untuk mengungkap fakta lebih lanjut mengenai penyebab kematian yang misterius ini. Mereka ingin memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang pada tahanan lainnya.
KontraS Surabaya berkomitmen untuk mendampingi keluarga dalam proses hukum untuk mencari keadilan. Mereka menegaskan bahwa penting untuk melakukan tindakan tegas agar tindak kekerasan dalam penahanan tidak lagi terjadi.
Saat ini, keluarga Alfarisi berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap masalah ini, dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan agar hak asasi manusia tetap dihormati dalam sistem penegakan hukum.



