Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (AI) tidak akan menggantikan peran guru dalam dunia pendidikan. Meskipun AI menawarkan berbagai kemudahan, ada banyak aspek pembelajaran yang hanya dapat dilakukan oleh manusia, terutama dalam hal pengajaran dan interaksi sosial.

Menurut menteri, AI memiliki keterbatasan yang tidak memungkinkan teknologi ini untuk mengambil alih seluruh fungsi yang biasa dilakukan oleh guru. Ini terutama berlaku dalam konteks etika dan nilai-nilai manusia yang sangat penting dalam pendidikan.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa meskipun AI dapat menawarkan saran dan informasi dengan cepat, teknologi ini tidak bisa menggantikan pengalaman dan kehadiran guru di dalam kelas. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga melakukan bimbingan moral dan pembentukan karakter siswa.

Pentingnya Peran Guru di Era Teknologi Modern

Dalam era digital ini, peran guru menjadi semakin kompleks dengan kehadiran teknologi canggih. Meskipun AI mempermudah akses informasi dan pembelajaran, peran guru tetap tak tergantikan. Guru berfungsi sebagai pengarah dan penilaian kritis terhadap informasi yang diterima siswa.

Pendidikan harus mampu menyeimbangkan antara penggunaan teknologi dan integrasi nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi generasi yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki integritas dan karakter yang kuat.

Pendekatan pendidikan harus melibatkan cara-cara inovatif dengan tetap mengedepankan nilai-nilai moral. Guru berperan sebagai mentor yang tidak hanya mendidik secara akademis, tetapi juga membina hubungan sosial yang sehat antara siswa.

Kendali Manusia dalam Penggunaan AI

Salah satu hal yang ditegaskan oleh Abdul Mu’ti adalah kendali atas penggunaan AI harus berada di tangan manusia. AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang mampu meningkatkan proses pendidikan, bukan sebagai pengganti guru. Dengan demikian, penguasaan teknologi harus disertai dengan sikap kritis.

Penting bagi pendidik dan siswa untuk memahami bahwa informasi yang diberikan oleh AI sangat bergantung pada data yang diunggah. Kesalahan dalam pengunggahan data akan berdampak langsung pada informasi yang disampaikan oleh AI. Oleh karena itu, akurasi dan kredibilitas sumber data menjadi aspek yang harus diperhatikan dengan serius.

Di tengah ketidakpastian dan kompleksitas informasi saat ini, siswa perlu dilatih untuk memilah informasi yang benar dan salah. Guru, dalam hal ini, berperan penting dalam mendidik siswa untuk menjadi pemikir kritis yang tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong atau informasi yang menyesatkan.

Penerapan AI dalam Kurikulum Pendidikan

Abdul Mu’ti menjelaskan kebijakan mengenai pengenalan pelajaran AI dan pengkodean di sekolah dasar mulai kelas V sebagai mata pelajaran pilihan. Kebijakan ini diharapkan dapat memperkenalkan siswa pada teknologi yang semakin berkembang. Meskipun demikian, penerapan kebijakan ini harus dilakukan dengan hati-hati dan bertahap.

Pendidik dan satuan pendidikan harus dipersiapkan dengan baik untuk menerapkan kurikulum baru ini. Pelatihan bagi guru sangat diperlukan agar mereka memahami cara mengajarkan materi terkait AI dan pengkodean dengan efektif. Hal ini bertujuan agar siswa mendapatkan pengetahuan yang relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.

Selama penerapan teknologi, penting bagi dunia pendidikan untuk tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Guru harus tetap berfungsi sebagai pemandu moral dan membantu siswa dalam mengembangkan karakter mereka. Pendidikan yang hanya fokus pada penguasaan teknologi tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan dapat menghasilkan individu yang terputus dari nilai-nilai sosial.

Iklan