Pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat merupakan momen yang penuh tantangan, baik secara fisik maupun emosional. Terlebih lagi jika lokasi kejadian berada di area yang terpencil dan sulit dijangkau, seperti di puncak Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Baru-baru ini, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi korban kedua dari kecelakaan pesawat ATR 42-500. Korban yang ditemukan adalah seorang perempuan, tepatnya di kedalaman antara 350 hingga 400 meter dari puncak gunung, yang menjadi tantangan tersendiri bagi tim evakuasi.

Komando operasi dipimpin oleh Brigjen Andre Clift Rumbayan dari Korem 141/Toddopuli, yang menjelaskan bahwa meski jenazah sudah ditemukan sehari sebelumnya, proses evakuasi membutuhkan waktu yang lebih lama. Banyak faktor seperti cuaca buruk dan medan terjal yang menjadi penghalang bagi tim di lapangan.

Panduan Proses Evakuasi yang Efisien di Medan Jepangnya

Proses evakuasi dimulai sekitar pukul 11.00 WITA, menggunakan teknik evakuasi vertikal untuk menarik jenazah korban dari kedalaman yang cukup ekstrem. Dengan segala upaya, tim berhadapan dengan kondisi cuaca yang tidak bersahabat, termasuk hujan deras dan angin kencang.

Dari penjelasan Brigjen Rumbayan, kecepatan angin di lokasi mencapai 25 knot, yang membuat setiap langkah menjadi lebih menantang. Kerjasama tim menjadi kunci utama di tengah situasi yang kritis dan membahayakan.

Proses evakuasi tidak hanya memerlukan keterampilan teknis, tetapi juga ketahanan mental. Tim harus tetap fokus dalam menyelesaikan tugas dan menjaga keberanian di tengah situasi yang tegang dan tidak pasti.

Tantangan Cuaca yang Menghambat Proses Evakuasi

Cupha, cuaca ekstrem menjadi kendala yang nyata. Hujan lebat dan angin kencang kerap memaksa tim untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan lagi. Proses yang seharusnya berlangsung cepat, terganggu oleh kondisi alam yang sangat ekstrem ini.

Setelah melalui berbagai rintangan, proses penarikan jenazah akhirnya bisa diselesaikan sekitar pukul 17.15 WITA. Tim berhasil membawa jenazah korban ke puncak gunung sebelum melanjutkan perjalanan menuju posko utama yang berada di bawah.

Selama proses ini berlangsung, anggota tim SAR saling memberikan semangat, memastikan tidak ada yang kehilangan fokus meski tekanan cukup besar. Kebersamaan dan rasa saling mendukung menjadi aspek penting dalam melaksanakan misi tersebut.

Proses Identifikasi Jenazah Korban yang Memakan Waktu

Setibanya di posko, jenazah korban langsung diterima oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan. Proses pelabelan dan pendataan awal berlangsung selama kurang lebih 20 menit, menandakan betapa seriusnya penanganan situasi ini.

Brigjen Rumbayan menekankan pentingnya proses identifikasi yang akurat dengan menyebutkan bahwa setelah pelabelan, jenazah korban segera dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk pengujian lebih lanjut. Langkah ini sangat penting untuk memastikan kerjasama antara pihak berwenang dan tim SAR lebih efisien.

Jenazah yang berhasil dievakuasi ini menjadi korban kedua setelah sebelumnya tim menemukan korban pertama, yang adalah seorang laki-laki. Hal ini menunjukkan bagaimana tim responsif dalam menghadapi berbagai situasi dan mampu bekerja secara cepat, meski dengan tantangan yang ada.

Iklan