Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah melakukan pemeriksaan terhadap dua pejabat Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo akibat tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah. Insiden yang merenggut nyawa sejumlah turis asal Spanyol menyisakan banyak pertanyaan terkait tanggung jawab dan keselamatan pelayaran di daerah tersebut.

Di antara korban, terdapat keluarga pelatih tim sepak bola Valencia putri, Martin Carreras Fernando, yang menjadi sorotan publik. Tragedi ini tidak hanya menyoroti keselamatan pelayaran, tetapi juga dampaknya terhadap keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih secara tiba-tiba.

Pemeriksaan terhadap pejabat KSOP merupakan langkah awal dalam mencari keadilan bagi para korban. Dengan latar belakang mereka, penegakan hukum diharapkan dapat berlangsung transparan dan adil demi memberikan rasa aman kepada masyarakat dan wisatawan.

Pemeriksaan Pejabat Terkait Kecelakaan Kapal Wisata

Pemeriksaan yang dilakukan Polda NTT ini difokuskan pada dua pejabat penting, yakni Kepala KSOP Labuan Bajo, Stefanus Risdiyanto, dan Kasi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli, Maxianus Mooy. Mereka diminta untuk memberikan keterangan terkait insiden yang terjadi pada 26 Desember 2025 tersebut.

Tim penyidik mengharapkan bahwa kesaksian kedua pejabat ini dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai penyebab kecelakaan. Khususnya, berkaitan dengan prosedur keselamatan yang diterapkan selama pelayaran yang diikuti para turis tersebut.

Maxianus menyatakan bahwa mereka sedang menjalani pemeriksaan yang mendalam, meminta agar semua pihak bersabar hingga hasil akhir diperoleh. Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen untuk memberikan informasi yang transparan mengenai insiden yang mengguncang dunia pariwisata tersebut.

Kronologi Tenggelamnya KM Putri Sakinah

Kapal KM Putri Sakinah dilaporkan tenggelam di Selat Padar pada malam hari sekitar pukul 21.00 Wita, mengangkut total sebelas orang. Dari sebelah orang tersebut, enam di antaranya adalah anggota keluarga Carreras yang sedang berlibur.

Tragedi ini merenggut nyawa Martin dan tiga anaknya, sementara satu anak lainnya masih dinyatakan hilang setelah upaya pencarian yang dilakukan oleh tim SAR. Temuan tiga korban yang meninggal dunia menambah kesedihan mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan mereka.

Penyelamatan bagi mereka yang terjebak dalam insiden ini menjadi tantangan tersendiri, dan waktu pencarian menjadi semakin krusial. Hari demi hari berlarut tanpa kepastian akan nasib anggota keluarga yang hilang, menjadi ujian bagi harapan dan kesabaran para pencari.

Tanggung Jawab dan Proses Hukum terhadap Tersangka

Pihak kepolisian telah menetapkan dua orang sebagai tersangka terkait kecelakaan kapal ini, yakni nahkoda berinisial L dan seorang ABK berinisial M. Mereka karena diduga berperan dalam kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa.

Penegakan hukum yang tegas diharapkan menjadi sinyal bahwa keselamatan tidak boleh diabaikan dalam industri pariwisata, yang kini semakin berkembang. Masyarakat menunggu hasil pemeriksaan dan proses hukum yang akan berlangsung seiring kepada berjalannya waktu.

Polda NTT berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum untuk memastikan bahwa semua aspek hukum dipatuhi dalam menangani kasus ini. Proses hukum yang berjalan menjadi langkah penting dalam menegakkan keadilan dan memberikan rasa aman bagi masyarakat dan wisatawan yang mengunjungi daerah tersebut.

Kesehatan Mental dan Dukungan bagi Keluarga Korban

Di luar aspek hukum, penting juga untuk memperhatikan dampak emosional yang ditanggung oleh keluarga korban. Kehilangan yang mendalam dalam satu insiden tentu membutuhkan dukungan psikologis yang memadai bagi mereka yang ditinggalkan.

Program-program dukungan mental dari pemerintah baik lokal maupun pusat bisa menjadi solusi untuk membantu keluarga berduka. Bantuan yang tepat dapat membantu mereka memproses rasa kehilangan dan kembali membangun kehidupan mereka.

Diskusi tentang keselamatan dan keamanan pelayaran juga harus menjadi perhatian yang lebih besar di kalangan pihak berwenang. Perbaikan dalam sistem keamanan dan prosedur darurat perlu dilakukan untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Iklan