Menteri Perhubungan, Dudy Purwahandhi, angkat suara menanggapi desakan mundur yang dialamatkan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud. Desakan tersebut muncul setelah serangkaian insiden kecelakaan kapal laut yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir, mengundang kekhawatiran dalam masyarakat mengenai keselamatan pelayaran di Indonesia.
Sebagai pemimpin, Dudy menyatakan bahwa evaluasi terhadap jajaran yang ada akan terus dilakukan, walaupun tidak memberikan jawaban tegas terkait desakan yang diajukan dalam rapat Komisi V DPR. Ia menegaskan bahwa prestasi individu setiap pegawai akan menjadi fokus perhatian dalam proses evaluasi tersebut.
“Kami akan mempertimbangkan banyak aspek dalam evaluasi tersebut,” ujar Dudy. Evaluasi ini meliputi performa setiap individu yang terlibat dalam sektor perhubungan laut, seiring dengan upaya untuk memperbaiki sistem dan prosedur yang ada.
Audit Menyeluruh Terhadap Perusahaan Pelayaran
Dalam waktu dekat, Kementerian Perhubungan berencana melakukan audit terhadap empat perusahaan kapal yang terlibat dalam insiden kecelakaan. Salah satu kapal yang menjadi sorotan adalah KMP Mutiara Sentosa 2, yang baru-baru ini mengalami masalah keamanan di jalur pelayaran.
Dudy menjelaskan bahwa audit ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah perusahaan-perusahaan tersebut telah mematuhi peraturan dan ketentuan keselamatan pelayaran yang berlaku. Hal ini diperlukan untuk mengetahui adanya kemungkinan kesalahan yang terjadi, baik yang tergolong ringan maupun berat.
“Dari audit ini, kami berharap dapat mengidentifikasi kekurangan yang ada dan mengambil langkah-langkah perbaikan yang perlu,” tambah Dudy. Langkah ini diambil sebagai komitmen Kementerian untuk meningkatkan keselamatan di laut dan mencegah terjadinya kecelakaan di masa depan.
Desakan Mundur Dirjen Perhubungan Laut Setelah Rentetan Kecelakaan
Aksi desakan agar Dirjen Perhubungan Laut, Muhammad Masyhud, mundur muncul setelah banyaknya insiden kecelakaan kapal, termasuk kasus terbaru. Anggota Komisi V, Yasti Soepredjo Mokoagow, menilai bahwa pertanggungjawaban harus dipegang oleh Masyhud selaku pemimpin di sektor ini.
Dalam rapat tersebut, Yasti mengungkapkan kritik tajam, menyatakan bahwa Masyhud seharusnya merasa malu atas kejadian yang telah menelan banyak korban jiwa. Sejak Januari hingga Agustus, tercatat 601 kecelakaan kapal yang terjadi di Indonesia, menambah kekhawatiran publik mengenai keamanan transportasi laut.
“Harus ada budaya malu dalam posisi Jabatan Bapak,” tegas Yasti. Penegasan tersebut menggambarkan urgensi untuk mengambil langkah tegas demi keselamatan pengguna jasa transportasi laut di Indonesia.
Statistik Mengkhawatirkan Kecelakaan Kapal di Indonesia
Komisi V DPR merilis data mencengangkan mengenai kecelakaan kapal di Indonesia yang menunjukkan angka yang sangat tinggi. Dengan lebih dari 600 kecelakaan tercatat sepanjang tahun 2023, hal ini menjadi sinyal peringatan terhadap kondisi keselamatan pelayaran di tanah air.
Dari jumlah tersebut, korban yang terlibat mencapai 3.607 orang, dengan 239 di antaranya dilaporkan meninggal dunia dan 203 orang lainnya hilang. Data ini menyoroti betapa krusialnya tindakan preventif yang harus diambil untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Ironisnya, di tengah situasi memprihatinkan ini, tidak terlihat adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh pihak berwenang untuk menangani permasalahan tersebut. Disinilah pentingnya komitmen dari setiap pihak untuk memperbaiki sistem dan prosedur dalam transportasi laut.



