Banjir telah kembali melanda Kampung Raja, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang, setelah jebolnya tanggul sungai. Air melimpah dari sungai menggenangi pemukiman penduduk, menyebabkan kekhawatiran di kalangan warga yang terpaksa kembali mengungsi.
Sebuah laporan menyebutkan bahwa insiden ini terjadi pada sore hari, tepatnya sekitar pukul 18.00 WIB. Sementara itu, pada pukul 21.00 WIB, kondisi air semakin memburuk dan membanjiri kawasan yang sebelumnya terbebas dari air.
Menurut M. Daud, seorang tokoh pemuda di wilayah tersebut, jebolnya tanggul yang menghubungkan antar Kecamatan Bendahara dan Seruway itu sudah diantisipasi oleh warga. Para penduduk setempat merasa kecewa karena tanggul tersebut belum diperbaiki sejak insiden banjir sebelumnya.
Banjir kali ini menggenangi Kampung Raja, di mana masih banyak warga yang mengungsi di tenda-doakan akibat banjir sebelumnya. Sumber banjir ini diduga berasal dari kiriman air dari hulu sungai akibat hujan lebat yang mengguyur pegunungan.
M Daud juga menambahkan bahwa kerusakan di sejumlah titik tanggul di pesisir Kecamatan Bendahara terjadi akibat banjir bandang yang melanda pada akhir November lalu. Hal ini menyebabkan sebagian besar infrastruktur penahan air di wilayah tersebut dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Dampak Banjir Terhadap Masyarakat dan Lingkungan Sekitar
Dampak dari jebolnya tanggul sungai sangat signifikan bagi masyarakat setempat. Banyak warga yang harus mengungsi untuk kedua kalinya dalam waktu yang singkat. Situasi ini menciptakan rasa ketidakpastian di antara mereka.
Banjir ini tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga mengganggu aktivitas perekonomian warga. Sebagian besar penduduk yang bergantung pada pertanian dan sumber daya lokal mengalami kesulitan, mengingat hasil panen mereka terancam.
Pemerintah daerah diharapkan dapat segera mengambil tindakan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak. Tanpa perbaikan yang tepat, risiko banjir susulan yang lebih parah sangat mungkin terjadi, mengingat cuaca ekstrem menjadi lebih umum.
Pentingnya Tindakan Antisipatif dan Kesadaran Masyarakat
Kondisi cuaca yang tidak menentu menuntut masyarakat untuk lebih bersiap menghadapinya. Kesadaran akan pentingnya tindakan antisipatif menjadi hal yang sangat mendesak, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan banjir.
Pemerintah setempat perlu melakukan sosialisasi mengenai langkah-langkah yang bisa diambil warga untuk mengurangi dampak bencana. Pendidikan tentang perubahan cuaca dan mitigasi bencana perlu ditingkatkan di kalangan masyarakat.
Partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan juga sangat penting. Dengan menjaga kebersihan sungai dan area sekitarnya, risiko terjadinya banjir dapat diminimalisir.
Pentingnya Infrastruktur yang Tangguh untuk Menghadapi Bencana
Salah satu pelajaran penting dari banjir di Kampung Raja adalah pentingnya infrastruktur yang tangguh. Tanggul yang kuat dan berfungsi dengan baik merupakan salah satu kunci untuk melindungi pemukiman dari ancaman banjir.
Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya melakukan perbaikan, tetapi juga melakukan analisis menyeluruh mengenai kekuatan infrastruktur yang ada. Rencana pembangunan yang lebih berkelanjutan perlu dipertimbangkan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.
Inisiatif untuk memperkuat sistem drainase dan pembangunan waduk juga harus diutamakan. Dengan begitu, air hujan dapat dikelola dengan lebih baik dan meminimalkan risiko meluapnya sungai.



