Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Bramantyo, memberikan laporan terkini mengenai dampak gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam konferensi pers yang digelar, dia mengungkapkan bahwa jumlah total korban yang terdaftar kini mencapai 202 orang, di mana 70 di antaranya sudah dilaporkan meninggal dunia dan 132 lainnya mengalami luka-luka.
Data tersebut menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan. Dari total korban yang terluka, 40 orang mengalami luka berat, sementara 92 lainnya mengalami luka ringan.
Pada saat ini, semua tim SAR difokuskan pada tugas penyisiran, pencarian, dan pemulihan, dengan dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ini merupakan langkah penting untuk memastikan bahwa semua korban yang masih hilang dapat ditemukan.
Rincian Korban dan Lokasi Terjadi Gempa
Bramantyo juga menyampaikan rincian lokasi korban meninggal dunia, dengan angka tertinggi terjadi di Kabupaten Manggarai, yang mencapai 27 jiwa. Selanjutnya, Kabupaten Manggarai Timur menyusul dengan 25 jiwa.
Beberapa lokasi lainnya seperti Nagekeo, Sikka, Ngada, Manggarai Barat, dan Ende mendapatkan laporan dengan jumlah korban yang bervariasi, menyuguhkan gambaran menyedihkan terkait dampak bencana ini. Angka-angka tersebut menjadi indikasi serius tentang kerentanan daerah tersebut terhadap bencana alam.
BNPB sendiri mencatat total 1.182 orang yang terluka, dengan angka ini diambil dari transaksi di fasilitas kesehatan. Namun, perlu dicatat bahwa angka tersebut berbeda dengan laporan Basarnas, yang menunjukkan korban yang ditemukan di lapangan.
Evakuasi dan Kebutuhan Pengungsi Pasca Gempa
Selain korban jiwa, bencana ini juga menyebabkan 40.040 orang mengungsi dari tempat tinggal mereka. Berton SP Panjaitan, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menjelaskan bahwa data pengungsi tidak sepenuhnya menggambarkan kerusakan fisik pada rumah-rumah.
“Perlu diingat bahwa banyak dampak psikologis juga dialami para warga,” lanjutnya, menyoroti pentingnya mempersiapkan dukungan psikologis untuk para pengungsi ini.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa jumlah pengungsi terbanyak berasal dari Manggarai Timur dengan 15.465 jiwa, diikuti oleh Manggarai dengan 6.847 jiwa dan Nagekeo dengan 6.221 jiwa. Angka-angka ini mencerminkan skala bencana yang dialami kawasan tersebut.
Respon Pemerintah dan Penetapan Status Tanggap Darurat
Pemerintah Provinsi NTT telah mengambil langkah cepat dengan menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi selama 14 hari. Hal ini dimulai sejak tanggal 15 hingga 28 Agustus 2026, menunjukkan urgensi situasi yang dihadapi.
Langkah ini diambil untuk memfokuskan semua sumber daya dalam upaya penanganan bencana. Dengan status ini, berbagai program bantuan dan evakuasi dapat dilaksanakan dengan lebih terencana dan efektif.
Semua pihak diharapkan bisa berkolaborasi dengan baik, baik dari instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, hingga relawan lokal. Dengan kerja sama ini, diharapkan situasi di lapangan dapat lebih cepat membaik.



