Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan membuka peluang untuk memperpanjang pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara bersyarat hingga awal Februari 2026. Kebijakan ini ditujukan bagi satuan pendidikan jenjang SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, sebagai respons terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Deden Deni, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik. Sebagian sekolah masih menghadapi masalah akses yang disebabkan oleh banjir, sehingga perlu ada mitigasi yang tepat.
Rencana perpanjangan pembelajaran jarak jauh ini sangat bergantung pada perkembangan kondisi cuaca di wilayah tersebut. Deden menegaskan bahwa prioritas utama adalah keselamatan semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan.
Pendekatan Situasional dalam Kebijakan PJJ di Tangerang Selatan
Deden menyebutkan bahwa meskipun pembelajaran jarak jauh diperpanjang, sekolah-sekolah yang dipandang aman tetap bisa melaksanakan pembelajaran tatap muka. Keputusan ini diambil setelah melakukan koordinasi dengan pihak terkait dan melalui evaluasi kondisi lingkungan sekitar.
“Di wilayah Jurang Mangu, ada satu sekolah dasar dan SMP Negeri 22 yang telah melaksanakan PJJ. Kami terus memantau situasi yang ada,” ungkapnya. Sekolah-sekolah ini diharapkan tetap memberikan laporan terkini mengenai keadaan akses dan sarana prasarana yang mereka miliki.
Dengan adanya kebijakan ini, Dinas Pendidikan meminta setiap sekolah untuk lebih aktif melaporkan situasi di lingkungan masing-masing. Terutama yang berkaitan dengan kesiapan tenaga pendidik dan kondisi fasilitas pendidikan.
Kordinasi yang Intensif Antara Pihak Sekolah dan Orang Tua
Deden mengingatkan bahwa koordinasi dengan orang tua siswa akan sangat penting selama masa pembelajaran jarak jauh ini. Orang tua diharapkan untuk berkomunikasi dengan pihak sekolah terkait perkembangan cuaca dan pengaruhnya terhadap proses belajar mengajar.
“Laporan dari sekolah akan menjadi dasar pengambilan keputusan lebih lanjut terkait metode pembelajaran,” tegasnya. Dengan begitu, kebijakan dapat diadaptasi sesuai dengan situasi yang sedang berkembang.
Pihak Dinas Pendidikan juga mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama mengawasi dan menjaga keamanan lingkungan sekolah selama masa ini. Edukasi mengenai bagaimana menghadapi situasi cuaca ekstrem juga sangat diperlukan.
Dampak Cuaca Ekstrem Pada Proses Pembelajaran
Kebijakan pembelajaran jarak jauh ini diambil menyusul peringatan mengenai potensi cuaca ekstrem yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Curah hujan yang tinggi berpotensi menyebabkan terjadinya banjir di wilayah tersebut.
Dari hasil pemantauan BMKG, cuaca ekstrem diperkirakan akan berlanjut hingga awal bulan Februari. Hal ini memengaruhi keputusan Gubernur DKI Jakarta yang juga memperpanjang kebijakan yang sama di daerahnya.
Tindakan responsif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Kesadaran akan dampak cuaca ekstrem sangat penting dalam menyusun kebijakan pendidikan yang adaptif.



