Dalam upaya menentukan awal bulan puasa, Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia menggelar sidang Isbat yang menentukan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini dilakukan atas dasar hasil pengamatan hilal di seluruh wilayah Indonesia.
Proses penentuan awal bulan Ramadhan ini melibatkan berbagai kalangan, termasuk ulama dan ahli astronomi. Dalam sidang yang dipimpin Menteri Agama, Nasaruddin Umar, keputusan diambil setelah posisi hilal tidak terlihat pada pengamatan yang dilakukan sebelum itu.
Pengamatan hilal merupakan bagian penting dari tradisi penentuan waktu dalam kalender Islam. Jika hilal terlihat, maka bulan baru akan dimulai, namun ketidakmampuan untuk melihat hilal juga memiliki prosedur yang jelas.
Pentingnya Sidang Isbat dalam Penentuan Awal Ramadhan
Sidang Isbat merupakan suatu tradisi yang telah dilakukan sejak lama dan melibatkan berbagai pihak untuk mencapai konsensus. Proses ini bertujuan agar penentuan awal bulan mengikuti ketentuan agama dan astronomi.
Dalam sidang ini, berbagai data dan informasi tentang pengamatan hilal di berbagai daerah akan dipertimbangkan. Dengan demikian, keputusan yang diambil diharapkan dapat mencerminkan situasi secara menyeluruh.
Di tengah perkembangan teknologi, pelaksanaan sidang Isbat kini juga mendayagunakan metode ilmiah yang lebih canggih. Ini membantu memperkuat akurasi dalam pengamatan hilal yang dapat memberikan hasil yang lebih tepat.
Fakta Menarik Seputar Pengamatan Hilal
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan beberapa fakta menarik dalam konteks pengamatan hilal. Pertama, hilal adalah bulan sabit yang muncul setelah fase konjungsi, sehingga tidak semua bulan sabit dapat disebut sebagai hilal.
Sebagai informasi penting, waktu presentasi hilal sangat singkat, hanya beberapa menit setelah matahari terbenam. Jika terlambat, kesempatan untuk melihat hilal bisa hilang, sehingga pengamatan perlu dilakukan secara tepat waktu.
Cuaca juga berperan dalam pengamatan hilal. Jika langit berawan, kemungkinan hilal terlihat menjadi lebih kecil. Data cuaca sangat krusial dalam mendukung keberhasilan pengamatan ini.
Perkembangan Metode Pengamatan Hilal Modern
Pada saat ini, pengamatan hilal telah mengalami perkembangan signifikan berkat teknologi modern. Penggunaan teleskop dan kamera digital khusus memungkinkan para pengamat untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat dan presisi.
Sistem yang digunakan telah dirancang dengan baik, di mana tinggi hilal dan sudut elongasi menjadi parameter penting dalam penentuan awal bulan. Kriteria ini sejalan dengan kesepakatan negara-negara MABIMS yang mengatur menetapkan bulan Hijriah.
Dengan adanya revisi terhadap kriteria pengamatan hilal sebelumnya, kini syaratnya lebih ketat. Ini memberikan legitimasi yang lebih kuat dalam penentuan awal bulan suci bagi umat Muslim di berbagai negara.



