Para astronaut yang bertugas di luar angkasa sering menghadapi kondisi kesehatan yang unik, salah satunya adalah sembelit. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa faktor mikrogravitasi memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan makanan dalam tubuh mereka.

Masalah sembelit ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan para astronaut selama menjalankan misi yang panjang. Penelitian ini dilakukan untuk memahami lebih jauh tentang perubahan biologis yang terjadi dalam sistem pencernaan mereka saat berada di lingkungan luar angkasa.

Para peneliti melakukan penelitian terhadap 52 astronaut yang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) untuk mengidentifikasi penyebab sembelit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi mikrogravitasi memperlambat proses pencernaan makanan di dalam usus, yang merubah pola bakteri usus dalam mengolah nutrisi.

Penyebab Sembelit di Luar Angkasa

Sembelit merupakan keluhan yang umum di kalangan astronaut, namun studi ini menjadi langkah awal untuk dapat memberikan penjelasan yang lebih ilmiah. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa karakteristik unik dari lingkungan luar angkasa dapat memengaruhi fungsi usus manusia.

Berdasarkan analisis sampel darah para astronaut sebelum, selama, dan setelah misi, ditemukan bahwa perubahan signifikan terjadi pada metabolit di dalam tubuh mereka. Hal ini mencakup peningkatan jumlah protein yang difermantasi, yang meningkatkan risiko sembelit.

Giorgia La Barbera, salah satu penulis penelitian, menyatakan bahwa adanya perubahan dalam bakteri usus terjadi hanya dalam hitungan minggu setelah astronaut tiba di luar angkasa. Fenomena ini berlanjut hingga mereka kembali ke Bumi, yang menunjukkan dampak jangka panjang dari hidup di luar angkasa terhadap sistem pencernaan.

Metodologi Penelitian yang Digunakan

Untuk memahami fenomena ini, para peneliti menggunakan teknik metabolomik, yang memungkinkan mereka untuk mempelajari kandungan molekul dalam darah. Dengan menggunakan metode ini, mereka mampu mendapatkan gambaran biokimia tentang bagaimana mikroba dalam usus astronaut bereaksi terhadap kondisi di luar angkasa.

Tim peneliti menganalisis total 488 sampel plasma dari 52 astronaut yang berada di ISS dalam rentang waktu dua hingga sembilan bulan. Hasil analisis menunjukkan perubahan pada sekitar 40 senyawa dalam darah yang berkaitan dengan fermentasi protein di usus besar.

Peningkatan senyawa ini menunjukkan bahwa proses pencernaan lebih lambat dibandingkan dengan kondisi di Bumi. Normalnya, bakteri usus besar akan memecah serat dan karbohidrat untuk mengeluarkan energi, namun dalam kondisi ini, proses tersebut bertukar dengan pemecahan protein.

Dampak Sembelit pada Astronaut dan Solusinya

Masalah sembelit pada astronaut tidak hanya menyebabkan rasa tidak nyaman, tapi juga dapat mengeluarkan senyawa berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida. Oleh karena itu, penting untuk mencari solusi yang tepat untuk menjaga kesehatan pencernaan mereka.

Penting juga untuk dicatat bahwa pola makan yang dikonsumsi astronaut saat di luar angkasa juga berperan dalam masalah ini. Meski perbedaan asupan makanan tidak sepenuhnya menjelaskan masalah, mereka tetap cenderung memiliki dampak yang signifikan.

Peneliti merekomendasikan agar astronaut meningkatkan asupan serat serta konsumsi karbohidrat yang mudah dicerna agar mikroba di usus dapat berfungsi dengan baik. Hal ini dinilai sebagai pendekatan yang sederhana namun efektif untuk mengatasi masalah tersebut.

Iklan