Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, baru-baru ini berhasil melakukan pemulangan bayi perempuan berinisial SA yang berusia sembilan bulan. Bayi ini sebelumnya mengalami terlantar di Malaysia setelah ditinggalkan orang tuanya yang bekerja sebagai pekerja migran Indonesia.
Saat ditemukan, bayi SA tengah dirawat di salah satu rumah sakit di Johor, Malaysia, akibat kondisi penyakit paru-paru yang dideritanya. Proses penelusuran menunjukkan bahwa bayi tersebut memiliki keluarga besar yang tinggal di Kabupaten Probolinggo, Indonesia.
Berbagai pihak terlibat dalam upaya pemulangan bayi ini, termasuk pemerintah setempat dan lembaga terkait lainnya. Kerja sama ini menjadi kunci untuk memfasilitasi proses pemulangan dengan aman dan tepat waktu.
Kerjasama Lintas Sektoral dalam Proses Pemulangan
Proses pemulangan bayi SA ke Tanah Air dilakukan melalui koordinasi berbagai pihak, mulai dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia hingga Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo. Kepala Dinas Tenaga Kerja setempat, Saniwar, menekankan pentingnya kerjasama lintas sektoral dalam mempercepat proses ini.
Setelah bayi SA dipulangkan, penyerahan dilakukan di Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Probolinggo. Melalui sinergi yang baik, bayi tersebut bisa bernaung kembali di tengah keluarganya yang sudah menanti di tanah air.
Keberhasilan ini juga menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam melindungi warganya, terutama mereka yang berisiko mengalami masalah di luar negeri. Ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia.
Proses Pemulangan yang Menyentuh Hati
Setibanya di Indonesia, bayi SA berhasil mendarat di Bandara Internasional Juanda di Surabaya. Dalam perjalanan menuju Kabupaten Probolinggo, pemerintah setempat memfasilitasi perjalanan bayi tersebut agar bisa segera dipersatukan dengan keluarganya.
Di bandara, proses penyerahan kepada Kepala Dinas Tenaga Kerja dilakukan oleh pihak Unit Pelayanan Teknis Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja. Hal ini dilakukan untuk memastikan bayi tersebut berada dalam kondisi terbaik saat kembali ke rumah.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo, Rachmad Hidayanto, memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam proses ini. Ia menekankan bahwa peristiwa ini adalah sebuah momen berharga bagi keluarga bayi SA.
Pentingnya Kesadaran Hukum bagi Pekerja Migran
Peristiwa pemulangan bayi SA memberikan pelajaran bagi para pekerja migran Indonesia, terutama perempuan. Kepala Dinsos mengingatkan agar mereka lebih berhati-hati dan memilih jalur yang legal dan prosedural ketika memutuskan untuk bekerja di luar negeri.
Selanjutnya, Rachmad juga menyampaikan pentingnya mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku di negara tempat mereka bekerja. Hal ini penting demi menjaga keselamatan dan melindungi diri dari berbagai risiko yang mungkin terjadi.
Bagi mereka yang sudah berada di luar negeri, diharapkan untuk tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Ini akan menjadi langkah proaktif dalam menjaga keselamatan diri serta keluarga.
Kepala Puskesmas Kraksaan, Heni Rahmawati, turut memperhatikan kondisi kesehatan bayi SA. Ia menjelaskan bahwa akan dilakukan langkah lanjutan berdasarkan rekam medis yang didapat dari rumah sakit di Johor, Malaysia.
Tim medis berencana mempelajari rekam medis tersebut sebelum mengambil tindakan medis selanjutnya. Langkah ini penting untuk memastikan kesehatan bayi SA terjaga dan keadaannya semakin membaik setelah mengalami perawatan di luar negeri.
Perhatian terhadap kesehatan bayi sebagai seorang individu kecil yang baru 9 bulan dalam kehidupan ini sangat diperlukan, terlebih setelah melalui pengalaman yang cukup sulit. Penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu bayi tersebut mendapatkan perawatan yang diperlukan.



