Massa pengemudi ojek online menggelar aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, pada Rabu, 14 Januari 2026. Dalam demonstrasi tersebut, mereka membawa sejumlah tuntutan penting yang berkaitan dengan kesejahteraan dan hak-hak pengemudi.
Sebanyak ratusan pengemudi ojek online menyuarakan aspirasi mereka yang ingin agar potongan tarif dari aplikator tidak lebih dari 10 persen. Tuntutan ini mencerminkan keresahan mereka terhadap kebijakan yang selama ini memberatkan pengemudi.
Tuntutan utama dari para pengemudi mencakup pengurangan potongan tarif yang mereka anggap terlalu tinggi. Selain itu, mereka juga menyerukan perlunya jaminan sosial yang lebih baik bagi pengemudi, termasuk akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan.
Tuntutan Pengemudi Ojek Online untuk Kesejahteraan yang Lebih Baik
Dalam aksi tersebut, Regar, seorang relawan dari Perhimpunan Ojek Online, mengungkapkan bahwa potongan tarif saat ini mencapai lebih dari 30 persen. Ia menegaskan pentingnya membatasi potongan ini agar tidak lebih dari 10 persen agar pengemudi bisa mendapatkan penghasilan yang lebih manusiawi.
Regar juga menambahkan bahwa para pengemudi selama ini merasa terbebani dengan biaya yang tinggi. “Kami berharap keadilan dalam potongan tarif, agar kami bisa kembali bernapas dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Tuntutan lainnya adalah pemenuhan jaminan sosial, meliputi BPJS, pendidikan, dan fasilitas perumahan gratis. Para pengemudi meminta agar hak-hak mereka sebagai pekerja dihormati dan dilindungi oleh pemerintah dan pihak aplikator.
Lebih jauh, Regar menyoroti masalah klaim asuransi kecelakaan yang sulit direalisasikan. “Banyak dari kami yang mengalami kecelakaan saat bekerja, namun klaim asuransi sangat sulit diajukan,” katanya.
Hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri, mengingat banyak pengemudi yang berisiko tinggi saat bekerja di jalan raya. Mereka membutuhkan perlindungan yang lebih baik untuk bisa bekerja dengan aman dan nyaman.
Protes terhadap Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Selain tuntutan terkait kesejahteraan, aksi ini juga menyoroti kebijakan luar negeri Amerika Serikat, khususnya terhadap Venezuela. Massa ojek online tersebut menuntut agar AS menghentikan intervensi di negeri yang tengah mengalami krisis politik itu.
Ketua Umum Perhimpunan Ojek Online, Cecep Saripudin, menyatakan bahwa mereka juga meminta agar Presiden Venezuela Nicolas Maduro dibebaskan. “Kita menginginkan kebebasan berdemokrasi bagi Venezuela,” ujar Cecep di depan Kedutaan AS.
Cecep juga mengecam tindakan AS yang dianggap melanggar hukum internasional. Menurutnya, Amerika Serikat seharusnya jadi contoh dalam menjaga demokrasi bukannya justru mengintervensi negara lain.
Pernyataan tersebut mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen massa yang turut serta dalam aksi. Mereka menekankan bahwa semua negara berhak menentukan nasibnya sendiri tanpa campur tangan pihak lain.
Dalam konteks ini, demonstrasi ini bukan hanya soal potongan tarif, tetapi juga menjadi suara bagi keadilan dan kedaulatan negara lainnya.
Keamanan dan Pendekatan Humanis dalam Aksi Unjuk Rasa
Kapolrestro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold EP Hutagalung, menjelaskan bahwa dalam pengamanan demonstrasi tersebut, pihak kepolisian menerapkan pendekatan humanis. Sebanyak 1.541 personel dikerahkan untuk memastikan aksi berjalan aman dan damai.
Reynold menekankan bahwa pihak kepolisian tidak dibekali senjata api demi menjamin keamanan dan kenyamanan para pengunjuk rasa. “Kami ingin seluruh personel mengedepankan sikap persuasif dan profesional,” ujarnya.
Pihak kepolisian berkomitmen untuk melayani masyarakat dan menjaga hak konstitusional warga negara dalam menyampaikan aspirasi. Hal ini menjadi hal yang penting untuk menjamin ketertiban umum selama berlangsungnya demonstrasi.
Pengamanan yang humanis ini diharapkan dapat mencegah tindakan anarkis dan memungkinkan para pengunjuk rasa untuk menyampaikan pendapat dengan cara yang damai. Seluruh pihak berupaya untuk saling menghormati dan mendengarkan suara satu sama lain.
Dengan demikian, diharapkan aksi unjuk rasa ini menjadi momentum bagi pengemudi ojek online dan masyarakat untuk memperjuangkan hak-hak mereka dalam cara yang konstruktif.



