Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Kapolri saat ini, menyampaikan duka yang mendalam atas kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, yang lebih dikenal sebagai Eyang Meri. Sosoknya bukan hanya sebagai istri dari Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, tetapi juga sebagai teladan bagi banyak orang, terutama dalam institusi Kepolisian Republik Indonesia.
Kehilangan ini dirasakan bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga seluruh anggota Korps Bhayangkara. Dalam pernyataannya, Sigit menekankan betapa Eyang Meri adalah saksi sejarah dan simbol integritas yang patut dicontoh oleh generasi muda Polri.
“Beliau memberikan inspirasi bagi generasi penerus Polri dan Bhayangkari,” ungkap Kapolri, menjelaskan betapa pentingnya peran Eyang Meri dalam institusi tersebut. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa ditemukan kekuatan dan ketabahan dalam masa berduka ini.
Perjalanan Hidup Eyang Meri dan Warisannya
Eyang Meri mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 3 Februari, di RS Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Dalam usia yang menginjak seratus tahun, beliau meninggal setelah menjalani perawatan medis intensif.
Lahir pada 23 Juni 1925, Eyang Meri berasal dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Kehidupannya yang panjang menyimpan banyak cerita dan teladan bagi banyak orang, khususnya di kalangan anggota Polri.
Kehidupan pernikahannya dengan Jenderal Hoegeng, yang berlangsung selama puluhan tahun, memberikan tiga orang anak: Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani. Kesuksesan mereka menjadi salah satu bukti ketahanan dan komitmen Eyang Meri dalam mendidik keluarga.
Jenderal Hoegeng dan Pencapaiannya dalam Sejarah Polri
Jenderal Hoegeng adalah Kapolri kelima dalam sejarah Republik Indonesia, menjabat dari tahun 1968 hingga 1971. Dalam kepemimpinannya, ia dikenal sebagai sosok yang berintegritas tinggi dan berkomitmen penuh dalam memberantas korupsi dalam tubuh kepolisian.
Bukan hanya di institusi kepolisian, Hoegeng juga pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada 1965. Kemudian, diangkat menjadi Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada 1966, menunjukkan betapa beliau dipercaya dalam posisi yang krusial.
Warisan yang ditinggalkan Hoegeng merupakan paduan antara etika dan dedikasi terhadap negara. Hingga saat ini, namanya masih menjadi acuan di kalangan aparat penegak hukum di Indonesia.
Pengaruh Eyang Meri dalam Lingkungan Polri dan Masyarakat
Sosok Eyang Meri tidak hanya terkenal di kalangan keluarga, tetapi juga memiliki tempat istimewa di hati setiap anggota Polri. Narasi tentang kepemimpinannya sebagai seorang istri yang mendukung karir suami di tengah tantangan menjadikan beliau sosok inspiratif.
Beliau selalu melibatkan diri dalam kegiatan sosial dan organisasi Bhayangkari, menjadikan Eyang Meri sebagai figur penting dalam pengembangan masyarakat. Dukungan dan pengaruhnya sangat terlihat dalam pemeliharaan nilai-nilai moral dan etika di lingkungan Polri.
Kepemimpinan moralnya telah menginspirasi banyak anggota Polri serta Bhayangkari untuk terus bekerja keras dan menjaga marwah institusi. Eyang Meri adalah contoh konkret dari cita-cita luhur yang dijunjung tinggi dalam institusi penegakan hukum.



