Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi gelombang tinggi di perairan Nusa Tenggara Timur (NTT). Gelombang ini diprediksi akan mencapai ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter dan diperkirakan akan berlangsung hingga Selasa, 14 Januari.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang, Yandri Anderudson Tungga, mengingatkan masyarakat serta para pengguna jasa transportasi laut untuk meningkatkan kewaspadaan. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko yang dapat ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu ini.

“Waspada terhadap potensi gelombang yang dapat mencapai ketinggian 2,5 meter di perairan NTT hingga 14 Januari,” tambah Yandri dalam pernyataannya. Ia menghimbau agar semua pihak lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas di laut.

Analisis Pola Angin dan Dampaknya Terhadap Gelombang

Menurut analisis yang dilakukan oleh BMKG, pola angin di wilayah NTT secara umum bergerak dari arah barat daya menuju barat laut. Kecepatan angin ini terpantau cukup kencang, berkisar antara 8 hingga 35 knot, yang berkontribusi pada peningkatan tinggi gelombang.

Fenomena pola angin ini tidak hanya mempengaruhi kondisi gelombang, tetapi juga berbagai aktivitas yang dilakukan di laut. Para nelayan, khususnya, perlu memahami dampak dari kecepatan angin yang dapat memengaruhi keselamatan mereka saat melaut.

BMKG juga memantau adanya pusat tekanan rendah di timur laut Australia yang berpotensi memengaruhi cuaca di NTT. Hal ini dapat menyebabkan pertemuan aliran angin yang berisiko menghasilkan gelombang yang lebih tinggi dan tidak terduga.

Wilayah yang Terkena Potensi Gelombang Tinggi

Potensi gelombang tinggi ini diperkirakan akan terjadi di berbagai titik perairan strategis di NTT. Beberapa perairan yang termasuk dalam kategori ini adalah Selat Sape, perairan Flores, dan Selat Sumba.

Adapun titik-titik yang berpotensi mengalami gelombang tinggi meliputi, antara lain:

  • Selat Sape (bagian utara dan selatan)
  • Perairan utara dan selatan Flores
  • Selat Flores-Lamakera, Selat Pantar, dan Selat Alor
  • Selat Sumba (bagian barat dan timur)
  • Laut Sawu dan Selat Ombai
  • Perairan Sabu-Raijua dan Timor-Rote

Meskipun tinggi gelombang 2,5 meter tergolong dalam kategori sedang, BMKG menegaskan bahwa kondisi ini dapat membahayakan keselamatan pelayaran tertentu. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pelayar yang beroperasi di wilayah tersebut.

Pentingnya Kewaspadaan dan Pembaruan Informasi Cuaca

Penting bagi semua pihak yang beraktivitas di laut untuk tetap mengikuti informasi terbaru mengenai cuaca dari BMKG. Yandri mengingatkan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi para nelayan yang menggunakan perahu kecil.

Para nelayan sebaiknya lebih berhati-hati saat angin mencapai kecepatan 15 knot dan gelombang setinggi 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang dilarang melakukan pelayaran jika kecepatan angin menyentuh 16 knot dengan gelombang mencapai 1,5 meter.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk waspada terhadap kemunculan awan gelap, khususnya awan Cumulonimbus. Awan ini dapat meningkatkan tinggi gelombang dan menyebabkan perubahan arah serta kecepatan angin secara tiba-tiba dan signifikan.

Iklan