Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya memberikan tanggapan terhadap kritik yang disampaikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal. Kritik ini ditujukan pada frekuensi kunjungan luar negeri yang tinggi oleh Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat, yang dianggap sangat menyita perhatian publik.
Kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis akhir-akhir ini mendapatkan sorotan, terutama karena kunjungan sebelumnya juga dilakukan dalam waktu dekat. Teddy menjelaskan bahwa walaupun banyak yang mengkritik, penting untuk mendiskusikan hasil diplomasi yang diupayakan demi kepentingan bangsa.
“Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa,” ujarnya menekankan bahwa kritik perlu disampaikan dengan mengedepankan fakta dan hasil kerja yang sudah dilakukan.
Respons dan Penjelasan Teddy Indra Wijaya Terhadap Kritik
Teddy menegaskan bahwa kritik dan masukan dari publik sangat penting. Ia mengungkapkan bahwa ruang untuk berbagai pendapat selalu tersedia, tetapi harus memperhatikan kepentingan yang lebih besar. “Jangan sampai kritik tersebut mengaburkan fakta-fakta yang ada,” ujarnya dengan tegas.
Dalam video yang dipublikasikan, Teddy menjelaskan beberapa poin penting terkait kritik tersebut. Ditekankan bahwa sebagai seorang diplomat senior, masukan dari Dino patut dicermati, namun tetap perlu diluruskan agar tidak terjadi salah paham.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah mengenai biaya kunjungan luar negeri. Teddy menegaskan bahwa biaya yang melampaui anggaran negara akan sepenuhnya ditanggung oleh Presiden Prabowo sendiri, sehingga tidak membebani keuangan negara.
Menanggapi Biaya dan Jumlah Rombongan dalam Kunjungan
Teddy juga memberikan informasi bahwa jumlah rombongan dalam kunjungan luar negeri Prabowo telah dikurangi secara signifikan. “Dari sebelumnya yang bisa mencapai lebih dari 120 orang, kini jumlahnya hanya berkisar antara 50 hingga 60 orang,” paparnya menjelaskan perbandingan antara era pemerintahan sebelumnya dan kini.
Hal ini menunjukkan upaya Presiden Prabowo untuk lebih efisien dalam pengelolaan anggaran perjalanan dinas. Selain itu, Teddy menekankan pentingnya hubungan internasional di tengah situasi dunia yang dinamis dan penuh tantangan.
“Kita harus menjalin hubungan yang kuat, tidak hanya saat krisis,” tambahnya. Pendekatan ini diharapkan dapat mempermudah Indonesia dalam menghadapi situasi mendesak di masa yang akan datang dengan dukungan dari negara-negara lain.
Keberhasilan Diplomasi yang Sudah Dicapai
Teddy juga menegaskan bahwa diplomasi yang dijalankan selama 1,5 tahun terakhir telah membuahkan berbagai hasil yang signifikan. Beberapa di antaranya adalah kerjasama di dalam BRICS yang secara langsung menjaga kestabilan kebutuhan energi dan pangan Indonesia di tengah konflik global.
Investasi yang masuk ke Indonesia dalam periode yang sama mencapai angka yang mencengangkan, yaitu sekitar Rp2.430 triliun. Ini menunjukkan dampak positif dari jalinan diplomasi yang kuat dan aktif oleh Presiden Prabowo.
Dengan kunjungan ke Jepang dan Korea, Teddy menyebutkan investasi baru yang mencapai Rp575 triliun, yang menjadi salah satu contoh konkret dari hasil diplomasi tersebut. Ini menunjukkan bahwa meski sering bepergian, kunjungan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Indonesia.



