Sejarah kegempaan di selatan Pulau Jawa kembali menarik perhatian setelah gempa berkekuatan 6,2 mengguncang Kabupaten Pacitan pada Jumat dini hari. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa ini termasuk dalam kategori megathrust, yang berasal dari subduksi lempeng tektonik dan terjadi pada kedalaman dangkal.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, mengungkapkan rasa syukur bahwa gempa ini tidak mencapai skala 7,0 yang bisa berpotensi tsunami. Sejarah kegempaan di wilayah tersebut mencatat bahwa Pacitan pernah mengalami tsunami akibat aktivitas seismik besar di masa lalu.
Dua peristiwa tsunami terburuk terjadi pada 4 Januari 1840 dan 20 Oktober 1859, di mana keduanya melanda pesisir selatan Pacitan. Peristiwa ini menjadi pengingat akan ancaman sejarah yang ditimbulkan oleh aktivitas megathrust di selatan Pulau Jawa.
Pemahaman Mendalam tentang Gempa Megathrust
Pemahaman mengenai gempa megathrust sangat penting, terutama untuk wilayah yang rentan seperti Pulau Jawa. Jenis gempa ini muncul ketika lempeng tektonik bertabrakan, di mana satu lempeng terangkat di atas yang lain, menghasilkan energi yang besar.
Kekuatan dari gempa megathrust bisa sangat dahsyat, dengan magnitudo yang dapat mencapai angka yang mengkhawatirkan. Pada kasus-kasus tertentu, gempa ini berpotensi menghasilkan tsunami yang bisa menerjang daerah pesisir dengan cepat dan merusak.
Sejarah mencatat berbagai bencana yang terjadi akibat pergerakan tektonik di Pulau Jawa, sehingga pemetaan dan pemahaman kawasan rawan menjadi kunci untuk mitigasi bencana. Upaya pendidikan masyarakat tentang risiko ini juga sangat penting untuk mengurangi dampak dari kejadian yang tidak terduga.
Sejarah dan Risiko Tsunami di Wilayah Pacitan
Wilayah Pacitan memiliki catatan sejarah tentang tsunami yang patut diwaspadai. Tsunami yang terjadi pada 1859 mencatatkan banyak kerak serta kerugian yang dialami oleh masyarakat saat itu.
Mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa tsunami ini pernah tercatat dalam dokumen sejarah, meski tidak sedetail peristiwa modern yang kita kenal sekarang. Hal ini menunjukkan tantangan dalam mendokumentasikan kejadian seismik di masa lalu.
Pentingnya catatan sejarah ini menjadi pembelajaran untuk generasi sekarang, karena mengingat betapa destruktifnya dampak dari tsunami. Pengetahuan tentang kejadian yang pernah terjadi di masa lalu bisa membantu membangun kesiapsiagaan di masyarakat saat menghadapi risiko serupa.
Evaluasi Segmen Megathrust di Pulau Jawa
Evaluasi terhadap segmen megathrust di sekitar Pulau Jawa menunjukkan adanya ancaman seismik yang signifikan. Menurut Peta Sumber dan Bahaya Gempa yang dirilis BMKG tahun 2024, terdapat tiga segmen utama yang diidentifikasi memiliki potensi gempa besar.
Segmen megathrust ini adalah Zona Megathrust Jawa, dengan potensi magnitudo hingga 9,1, Zona Megathrust Jawa bagian barat, dan Zona Megathrust Jawa bagian timur, masing-masing dengan potensi magnitudo maksima 8,9. Informasi ini sangat penting bagi perencana kota dan lembaga pendidikan untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan yang tepat.
Dari evaluasi terbaru, beberapa segmen yang sebelumnya dianggap aktif kini telah dihapus dari daftar ancaman. Hal ini menunjukkan perkembangan dalam kajian seismik, di mana riset dan teknologi terbaru meningkatkan pemahaman kita tentang aktivitas geologis.
Keputusan untuk menghapus segmen-segmen tertentu tidak berarti mengabaikan risiko, tetapi penekanan pada pemantauan yang berkelanjutan tetap berjalan. Peneliti menekankan pentingnya mengkaji ulang data seismik secara berkala, terutama di wilayah yang padat penduduk dan memiliki infrastruktur penting.
Jawa dan Sumatra tetap menjadi fokus perhatian, karena populasi yang besar dan berbagai fasilitas penting yang ada di kedua pulau ini. Dengan demikian, peningkatan kesadaran masyarakat dan kesiapsiagaan harus terus digalakkan agar ketika terjadi gempa, risiko terhadap jiwa dan harta benda dapat diminimalisir.



