Kremasi dan pemakaman konvensional telah lama menjadi dua pilihan utama bagi keluarga yang berduka. Namun, kini terdapat alternatif inovatif yang menawarkan jejak karbon lebih rendah, yaitu pengomposan jasad manusia. Metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan cara baru bagi keluarga untuk mengenang orang yang telah pergi dengan cara yang berarti.

Proses pengomposan jasad ini bekerja dengan mempercepat penguraian alami yang terjadi di alam. Jenazah akan dibungkus kain kafan yang terbuat dari bahan hayati, dan ditempatkan dalam kapsul logam yang berisi campuran serpihan kayu, mulsa, dan bunga liar.

Selama lebih dari sebulan, mikroba aktif akan bekerja mengurai tubuh di dalam wadah tertutup yang dialiri oksigen secara berkala. Suhu diatur pada tingkat optimal agar proses berlangsung hingga tingkat molekuler, dan hasilnya akan menjadi tanah yang kaya nutrisi dalam waktu kurang lebih 45 hari.

Proses Pengomposan Jasad Manusia yang Inovatif dan Ramah Lingkungan

Dalam proses pengomposan, sekitar 136 kilogram tanah dapat dihasilkan dari satu jasad. Hal ini membuat metode ini menjadi pilihan yang efisien dan berkelanjutan. Tom Harries, CEO dari perusahaan pengomposan manusia, menyatakan bahwa tujuan mereka adalah mempercepat proses alami yang sudah ada dalam lingkungan kita.

Metode ini dicetuskan setelah Harries merasakan kegelisahan pribadi dari pengalamannya di industri pemakaman. Menurut data, kremasi kini menguasai sekitar 60 persen pilihan pemakaman di Amerika Serikat, dan proses tersebut membutuhkan energi gas alam yang cukup besar untuk menyalakan tungku.

Di sisi lain, pemakaman konvensional juga melibatkan penggunaan bahan kimia seperti formaldehid untuk proses pembalseman. Oleh karena itu, pengomposan jasad manusia bisa menjadi solusi yang lebih baik, tidak hanya dari segi efisiensi tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Kisah Nyata di Balik Pengomposan Jasad Manusia

Salah satu contoh nyata dari praktik ini adalah kasus Laura Muckenhoupt. Ketika putranya, Miles, meninggal di usia 22 tahun, ia memilih untuk mengomposkan jasadnya. Kini, tanah yang dihasilkan dari proses tersebut telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, menumbuhkan pohon markisa di Portugal dan pakis di Hawaii.

Di rumahnya sendiri, Laura menggunakan tanah tersebut untuk menanam semak mawar. Setiap kali semak mawar itu mekar, Laura merasakan seolah-olah ada kunjungan kecil dari putranya. Ini menunjukkan betapa pengomposan jasad tidak hanya memberikan manfaat ekologis, tetapi juga dengan cara yang personal bagi keluarga yang ditinggalkan.

Laura mengungkapkan, “Setiap kali semak mawar itu mekar, rasanya seperti hadiah.” Hal ini menciptakan ikatan emosional yang mungkin tidak dapat diberikan oleh cara pemakaman lainnya. Metode ini menjadi representasi kehidupan baru yang dapat dihasilkan dari kehilangan.

Legalitas dan Penerimaan Pengomposan Jasad di Berbagai Wilayah

Pengomposan jasad manusia kini telah dilegalkan di 12 negara bagian di Amerika Serikat, dengan delapan negara bagian lainnya sedang mempertimbangkan rancangan undang-undang serupa. Ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menerima dan memahami nilai dari praktik yang lebih berkelanjutan ini.

Bagi keluarga yang memilih metode ini, mereka memiliki opsi untuk membawa pulang seluruh tanah hasil pengomposan. Alternatif lainnya adalah menyerahkan sebagian tanah kepada perusahaan untuk disalurkan ke proyek konservasi di daerah seperti Washington dan California.

Inisiatif semacam ini tidak hanya mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan, tetapi juga menyediakan pilihan pemakaman yang lebih kreatif dan bermakna bagi keluarga. Menyebarnya informasi mengenai praktik ini juga membuka percakapan tentang bagaimana kita memandang kematian dan cara menghargai hidup.

Iklan