Dalam upaya meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan pelajar, satu program bernama “Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda” atau KELANA Edisi 3 dilaksanakan akhir pekan lalu. Program ini mengajak 13 pelajar tingkat sekolah menengah atas untuk belajar mengenai pengelolaan lingkungan, transisi energi, dan konservasi keanekaragaman hayati secara langsung.

Melalui pendekatan experiential learning, para peserta tidak hanya belajar dalam kelas, tetapi juga terjun langsung ke lapangan untuk melihat berbagai praktik pengelolaan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman dan memberikan bekal kepada generasi muda dalam menghadapi isu-isu lingkungan yang semakin mendesak.

Dari Yogyakarta, para pelajar tersebut menjelajahi beberapa lokasi yang menjadikan environmental management sebagai fokus utama. Mereka diajak untuk melihat bagaimana industri, pemerintah, masyarakat, dan organisasi lingkungan berkolaborasi dalam menyelesaikan tantangan lingkungan.

Menggali Pengalaman Praktis dalam Pengelolaan Lingkungan

Perjalanan dimulai di PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu, di mana peserta belajar tentang distribusi bahan bakar dan pengelolaan lingkungan. Mereka diberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara industri dan pelestarian alam dari berbagai sisi.

Saat mengunjungi fasilitas distribusi energi, para pelajar diperkenalkan dengan aspek konservasi keanekaragaman hayati yang diterapkan dalam kawasan industri. Mereka melihat bagaimana penangkaran Rusa Jawa dan peternakan ayam petelur dikelola dengan baik, termasuk manajemen limbah yang terintegrasi.

Keterangan dari pihak Pertamina menegaskan bahwa pentingnya keterlibatan anak muda dalam program ini. Mereka diharapkan bisa menjadi agen perubahan dalam menyebarkan ide-ide positif mengenai pengelolaan lingkungan kepada komunitas mereka.

Inovasi dalam Pengelolaan Limbah: Mengubah Sampah Menjadi Bernilai

Peserta juga mengamati sistem pengelolaan limbah mandiri yang ditawarkan oleh fasilitas tersebut. Mereka mencatat beberapa inovasi menarik, seperti komposting yang mengubah sampah organik menjadi pupuk berkualitas tinggi.

Tidak hanya itu, program ini juga mencakup pencacahan sampah plastik dan budidaya maggot, yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik. Semua teknik ini menunjukkan bagaimana industri modern dapat berkontribusi dalam pengurangan dampak lingkungan sambil menciptakan nilai ekonomi.

Melalui praktik ini, peserta mempelajari bagaimana langkah kecil dalam pengelolaan limbah dapat memberikan dampak besar, baik untuk lingkungan mau pun untuk ekonomi lokal.

Kolaborasi Antara Industri dan Penjara dalam pengolahan Limbah

Dari Fuel Terminal Rewulu, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Rutan Kelas IIB Bantul. Di sini, mereka melihat upaya kolaborasi antara industri dan lembaga pemasyarakatan untuk mengolah limbah plastik menjadi furnitur.

Program ini tidak hanya memberikan solusi bagi limbah, tetapi juga membantu warga binaan mengembangkan keterampilan. Ini adalah contoh nyata bagaimana rehabilitasi dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dalam satu proyek yang saling menguntungkan.

Pihak Rutan menjelaskan bahwa inisiatif ini adalah langkah untuk membangun kesadaran akan keberlanjutan sekaligus mengajarkan keterampilan yang berguna bagi kehidupan setelah masa tahanan.

Iklan